Senin, 07 September 2026

Materi Ajar Matematika Selasa, 7 September 2026

  

IDENTITAS

1. Nama Guru : Yuyun Eka Purwanti, S.Pd

2. Mapel : Matematika

3. Hari/Tanggal : Selasa, 7 September 2026

4. Fase/Kelas : Fase C / Kelas V (Lima)

5. Materi : FPB dan KPK

6. Pertemuan ke : 14

Capaian Pembelajaran

Peserta didik menunjukkan pemahaman dan intuisi bilangan (number sense) pada bilangan cacah sampai 1.000.000, termasuk membaca, menulis, menentukan nilai tempat, membandingkan, mengurutkan, melakukan komposisi dan dekomposisi bilangan, serta melakukan operasi hitung. Peserta didik juga mampu menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan KPK dan FPB serta membandingkan dan mengurutkan berbagai pecahan termasuk pecahan campuran.


Tujuan Pembelajaran

Peserta didik mampu:

1. memahami pengertian FPB dan KPK;

2. menentukan FPB dari dua atau lebih bilangan;

3. menentukan KPK dari dua atau lebih bilangan;

4. menentukan FPB dan KPK menggunakan faktor dan kelipatan;

5. menyelesaikan masalah sehari-hari yang berkaitan dengan FPB dan KPK;

6. menjelaskan strategi penyelesaian masalah FPB dan KPK dengan tepat.


TP Mindful, Meaningful dan Joyful


1. Mindful Learning (Berkesadaran)

  1. Peserta didik mampu memahami konsep FPB dan KPK dengan penuh perhatian dan teliti. Peserta didik mengidentifikasi faktor dan kelipatan suatu bilangan serta menentukan FPB dan KPK dengan langkah yang benar.
  2. Peserta didik menyadari bahwa ketelitian dalam menentukan faktor, kelipatan, FPB, dan KPK diperlukan agar dapat menyelesaikan permasalahan matematika dengan tepat.

2. Meaningful Learning (Bermakna)

  1. Peserta didik mampu menghubungkan konsep FPB dan KPK dengan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari.
  2. Peserta didik memahami bahwa FPB dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah pembagian atau pengelompokan secara merata, sedangkan KPK dapat digunakan untuk menentukan waktu atau kejadian yang berlangsung secara bersamaan.

3. Joyful Learning (Menggembirakan)


  1. Peserta didik mampu memahami dan menentukan FPB serta KPK melalui kegiatan yang menyenangkan seperti permainan faktor dan kelipatan, diskusi kelompok, latihan soal, pemecahan masalah, dan permainan mencari kelipatan yang sama.
  2. Peserta didik menunjukkan rasa percaya diri, aktif berdiskusi, bekerja sama, dan menikmati kegiatan pembelajaran matematika.

ATP (Alur Tujuan Pembelajaran)

1. Peserta didik memahami konsep faktor dan kelipatan suatu bilangan.

2. Peserta didik menentukan faktor persekutuan dan kelipatan persekutuan dari dua bilangan atau lebih.

3. Peserta didik menentukan FPB dari dua atau lebih bilangan.

4. Peserta didik menentukan KPK dari dua atau lebih bilangan.

5. Peserta didik membedakan penggunaan FPB dan KPK dalam berbagai permasalahan.

6. Peserta didik menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan KPK dan FPB dalam kehidupan sehari-hari.


MATERI

Assalamu'alaikum Wr.Wb.

 الـحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَـمِيْنَ ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الأَنْبِيَاءِ وَالـمُرْسَلِيْنَ ، نَبِيِّنَا وَحَبِيْبِنَا مُـحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْـمَعِيْنَ ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ ، أَمَّا بَعْدُ

Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin, wassholaatu wassalaamu ‘alaa asyroofil anbiyaa-i wal mursaliin, nabiyyinaa wahabiibinaa muhammadin, wa’ala alihi washahbihi aj’ma’iin,wa mantabi’ahum biihsanin ilaa yaumiddin, Amma ba’du.

Sebelum kita masuk ke pembelajaran Matematika mari kita renungkan kebesaran Allah SWT

  • Al-Khaliq (Maha Menciptakan): Allah SWT adalah zat yang menciptakan alam semesta beserta isinya, termasuk sumber daya alam yang melimpah dan potensi akal manusia.
  • Al-Malik (Maha Memelihara/Merajai): Allah SWT adalah penguasa mutlak yang mengatur, menjaga, dan memelihara keseimbangan alam agar tetap harmonis dan tidak rusak.
  • Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki): Allah SWT yang menjamin dan melimpahkan rezeki bagi seluruh makhluk-Nya melalui kekayaan alam dan kemampuan kerja manusia.

Apersepsi

“Anak-anak, pernahkah kalian berbagi makanan atau benda kepada teman?”

“Misalnya, Ibu memiliki 12 apel dan 18 jeruk. Jika buah tersebut ingin dibagikan kepada beberapa anak dengan jumlah yang sama, bagaimana cara menentukan jumlah anak terbanyak yang dapat menerima?”

“Pernahkah kalian melihat dua kegiatan yang dilakukan secara berulang? Misalnya, lampu A menyala setiap 4 detik dan lampu B menyala setiap 6 detik. Menurut kalian, kapan kedua lampu tersebut akan menyala bersama-sama lagi?”

Guru mengaitkan jawaban peserta didik dengan pembelajaran:

“Untuk menyelesaikan masalah seperti membagi benda secara merata atau menentukan kapan dua kegiatan berulang terjadi bersamaan, kita dapat menggunakan FPB dan KPK.”


MATERI: FPB dan KPK

A. Pengertian Faktor

Faktor adalah bilangan yang dapat membagi habis suatu bilangan.

Contoh:

Faktor dari 12 adalah:

1, 2, 3, 4, 6, dan 12

Karena semua bilangan tersebut dapat membagi 12 tanpa sisa.

Simak Video berikut !




B. Pengertian Kelipatan

Kelipatan adalah hasil perkalian suatu bilangan dengan bilangan cacah.

Contoh:

Kelipatan 4:

4, 8, 12, 16, 20, 24, ...

Kelipatan 6:

6, 12, 18, 24, 30, ...

C. Faktor Persekutuan

Faktor persekutuan adalah faktor yang dimiliki oleh dua bilangan atau lebih.

Contoh:

Faktor dari 12 = 1, 2, 3, 4, 6, 12
Faktor dari 18 = 1, 2, 3, 6, 9, 18

Faktor persekutuannya adalah:

1, 2, 3, dan 6


D. FPB

FPB (Faktor Persekutuan Terbesar) adalah faktor persekutuan yang memiliki nilai paling besar.

Contoh:

Tentukan FPB dari 12 dan 18.

Faktor persekutuan 12 dan 18:

1, 2, 3, 6

Faktor yang paling besar adalah 6.

Jadi:

FPB dari 12 dan 18 = 6

A = 60

Beri masukan

Contoh masalah FPB

Ibu memiliki 24 apel dan 36 jeruk. Buah tersebut akan dimasukkan ke dalam beberapa kantong dengan jumlah apel dan jeruk yang sama pada setiap kantong.

Berapa jumlah kantong terbanyak yang dapat dibuat?

Penyelesaian:

FPB dari 24 dan 36 adalah 12.

Jadi, jumlah kantong terbanyak yang dapat dibuat adalah 12 kantong.


F. KPK

KPK (Kelipatan Persekutuan Terkecil) adalah kelipatan persekutuan yang memiliki nilai paling kecil.

Contoh:

Tentukan KPK dari 4 dan 6.

Kelipatan 4 = 4, 8, 12, 16, 20, ...

Kelipatan 6 = 6, 12, 18, 24, ...

Kelipatan persekutuan terkecil adalah 12.

Jadi:

KPK dari 4 dan 6 = 12

Contoh masalah KPK

Andi berolahraga setiap 4 hari sekali, sedangkan Budi berolahraga setiap 6 hari sekali. Hari ini mereka berolahraga bersama.

Berapa hari lagi mereka akan berolahraga bersama kembali?

KPK dari 4 dan 6 adalah 12.

Jadi, mereka akan berolahraga bersama kembali 12 hari lagi.


Latihan Soal 

Mengerjakan Latihan soal yang ada di buku matematika halaman 24 (Langsung dikerjakan pada buku Cetak)

 

Penutup

Demikian pembelajaran hari ini, semoga bermanfaat. dan kita akan lanjutkan pada pertemua selanjutnya.

Materi Ajar Bahasa Indonesia Senin, 7 September 2026

  



DENTITAS

  1. Nama Guru : Yuyun Eka Purwanti, S.Pd
  2. Mapel : Bahasa Indonesia
  3. Hari/Tanggal : Senin, 7 September 2026
  4. Fase/Kelas : Fase C / Kelas V (Lima)
  5. Materi : Majas Metafora, Hiperbola, dan Personifikasi
  6. Pertemuan ke : 14

Capaian Pembelajaran

Peserta didik mampu membaca kata-kata dengan berbagai pola kombinasi huruf dengan fasih dari bacaan dan/atau tayangan yang dipirsa. Peserta didik mampu menganalisis informasi serta nilai-nilai dalam teks sastra dan nonsastra berwujud teks visual dan/atau audiovisual. Peserta didik mampu mengenali, memahami, dan menggunakan bahasa figuratif atau majas untuk memahami makna dalam teks serta menyampaikan gagasan secara kreatif.

Tujuan Pembelajaran

Peserta didik mampu:

  1. memahami pengertian majas;
  2. mengidentifikasi ciri-ciri majas metafora, hiperbola, dan personifikasi;
  3. membedakan majas metafora, hiperbola, dan personifikasi dalam kalimat atau teks;
  4. menjelaskan makna kalimat yang menggunakan majas;
  5. menentukan jenis majas yang terdapat dalam sebuah kalimat;
  6. membuat kalimat sederhana menggunakan majas metafora, hiperbola, dan personifikasi.

TP Mindful, Meaningful dan Joyful

1. Mindful Learning (Berkesadaran)

Peserta didik mampu membaca, menyimak, dan mengamati kalimat atau teks dengan penuh perhatian untuk menemukan penggunaan majas metafora, hiperbola, dan personifikasi.

Peserta didik menyadari bahwa penggunaan majas dapat membuat bahasa menjadi lebih hidup, menarik, dan memiliki makna yang lebih kuat.

Peserta didik mampu memperhatikan kata-kata yang digunakan dalam sebuah kalimat dan memahami bahwa makna sebuah ungkapan tidak selalu sama dengan makna sebenarnya.

2. Meaningful Learning (Bermakna)

Peserta didik mampu menghubungkan penggunaan majas dengan bahasa yang sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti dalam cerita, puisi, iklan, percakapan, dan media lainnya.

Peserta didik memahami bahwa majas dapat digunakan untuk menyampaikan perasaan, menggambarkan keadaan, dan membuat suatu pesan menjadi lebih menarik.

Peserta didik mampu menggunakan majas untuk mengungkapkan pengalaman dan gagasan mereka sendiri.

3. Joyful Learning (Menggembirakan)

Peserta didik mampu mengenali dan menggunakan majas melalui kegiatan membaca, mengamati gambar, bermain tebak majas, berdiskusi, membuat kalimat, dan menyampaikan hasil karya secara kreatif dan menyenangkan.

Peserta didik menunjukkan rasa percaya diri, aktif bekerja sama, dan menikmati kegiatan menemukan serta membuat kalimat menggunakan majas.

ATP (Alur Tujuan Pembelajaran)

  1. Peserta didik membaca dan menyimak teks yang mengandung majas serta menemukan ungkapan yang memiliki makna khusus.
  2. Peserta didik mengenali dan menjelaskan pengertian majas.
  3. Peserta didik mengenali ciri-ciri majas metafora, hiperbola, dan personifikasi.
  4. Peserta didik mengidentifikasi dan membedakan penggunaan majas metafora, hiperbola, dan personifikasi dalam kalimat atau teks.
  5. Peserta didik menjelaskan makna ungkapan yang menggunakan majas berdasarkan konteks kalimat.
  6. Peserta didik membuat kalimat sederhana menggunakan majas metafora, hiperbola, dan personifikasi.
  7. Peserta didik menyampaikan hasil identifikasi atau karya kalimat menggunakan majas secara lisan atau tertulis dengan percaya diri.

MATERI

Assalamu'alaikum Wr.Wb.

 الـحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَـمِيْنَ ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الأَنْبِيَاءِ وَالـمُرْسَلِيْنَ ، نَبِيِّنَا وَحَبِيْبِنَا مُـحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْـمَعِيْنَ ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ ، أَمَّا بَعْدُ

Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin, wassholaatu wassalaamu ‘alaa asyroofil anbiyaa-i wal mursaliin, nabiyyinaa wahabiibinaa muhammadin, wa’ala alihi washahbihi aj’ma’iin,wa mantabi’ahum biihsanin ilaa yaumiddin, Amma ba’du.

Sebelum kita masuk ke pembelajaran Kokulikuler mari kita renungkan kebesaran Allah SWT

  • Al-Khaliq (Maha Menciptakan): Allah SWT adalah zat yang menciptakan alam semesta beserta isinya, termasuk sumber daya alam yang melimpah dan potensi akal manusia.
  • Al-Malik (Maha Memelihara/Merajai): Allah SWT adalah penguasa mutlak yang mengatur, menjaga, dan memelihara keseimbangan alam agar tetap harmonis dan tidak rusak.
  • Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki): Allah SWT yang menjamin dan melimpahkan rezeki bagi seluruh makhluk-Nya melalui kekayaan alam dan kemampuan kerja manusia.

MATERI: MAJAS METAFORA, HIPERBOLA, DAN PERSONIFIKASI

A. Pengertian Majas

Majas adalah penggunaan kata atau ungkapan dengan cara tertentu untuk memberikan kesan yang lebih menarik, indah, kuat, atau berbeda dari makna sebenarnya.

Majas banyak digunakan dalam:

  • cerita;
  • puisi;
  • pantun;
  • lagu;
  • iklan;
  • percakapan;
  • teks sastra.

Pada pembelajaran kali ini kita akan mempelajari tiga jenis majas, yaitu:

  1. Majas Metafora
  2. Majas Hiperbola
  3. Majas Personifikasi

1. Majas Metafora

Pengertian

Majas metafora adalah majas yang membandingkan dua hal secara langsung tanpa menggunakan kata pembanding seperti seperti, bagai, bagaikan, atau laksana.

Metafora biasanya menggunakan suatu kata atau ungkapan untuk menggambarkan sesuatu yang memiliki kesamaan sifat.

Contoh:

"Rani adalah bintang kelas."

Rani bukan benar-benar sebuah bintang. Ungkapan bintang kelas berarti Rani adalah murid yang berprestasi atau menonjol dalam kelas.

Contoh lainnya:

  • "Ayah adalah tulang punggung keluarga."
  • "Doni menjadi buah hati orang tuanya."
  • "Dia dikenal sebagai kutu buku."
  • "Kakak menjadi bintang lapangan dalam pertandingan."
  • "Jangan menjadi panjang tangan."

Makna ungkapan:

KalimatMakna
Rani adalah bintang kelas.Rani adalah murid berprestasi.
Ayah adalah tulang punggung keluarga.Ayah menjadi penopang keluarga.
Dika adalah kutu buku.Dika sangat suka membaca.
Ia menjadi bintang lapangan.Ia menjadi pemain yang menonjol.

Ciri-ciri Majas Metafora

  1. Membandingkan dua hal secara langsung.
  2. Tidak menggunakan kata seperti, bagai, atau laksana.
  3. Menggunakan kata atau ungkapan yang memiliki makna kiasan.
  4. Membuat suatu gambaran menjadi lebih menarik.

2. Majas Hiperbola

Pengertian

Majas hiperbola adalah majas yang menggunakan ungkapan secara berlebihan untuk memberikan penekanan atau memperkuat suatu keadaan.

Ungkapan hiperbola biasanya terdengar sangat berlebihan dan tidak dimaksudkan secara harfiah.

Contoh:

"Aku sudah menunggumu selama seribu tahun."

Kalimat tersebut bukan berarti seseorang benar-benar menunggu selama seribu tahun. Kalimat itu digunakan untuk menunjukkan bahwa seseorang merasa sangat lama menunggu.

Contoh lainnya:

  • "Suara penyanyi itu menggelegar membelah langit."
  • "Aku sudah memberitahumu jutaan kali."
  • "Tas ini beratnya seberat gunung."
  • "Air matanya membanjiri seluruh rumah."
  • "Ia berlari secepat kilat."

Ciri-ciri Majas Hiperbola

  1. Menggunakan ungkapan yang berlebihan.
  2. Tidak selalu sesuai dengan kenyataan.
  3. Digunakan untuk memberikan penekanan.
  4. Membuat keadaan terasa lebih kuat atau dramatis.

Contoh dan Maknanya

Kalimat HiperbolaMakna Sebenarnya
Aku menunggumu seribu tahun.Menunggu sangat lama.
Suaranya membelah langit.Suaranya sangat keras.
Air matanya membanjiri rumah.Ia menangis sangat banyak.
Ia berlari secepat kilat.Ia berlari sangat cepat.

3. Majas Personifikasi

Pengertian

Majas personifikasi adalah majas yang memberikan sifat atau perilaku manusia kepada benda mati, tumbuhan, hewan, atau benda-benda alam.

Dengan personifikasi, benda atau alam seolah-olah dapat melakukan sesuatu seperti manusia.

Contoh:

"Angin berbisik di antara pepohonan."

Angin sebenarnya tidak dapat berbicara atau berbisik. Kata berbisik merupakan sifat manusia yang diberikan kepada angin.

Contoh lainnya:

  • "Daun-daun menari tertiup angin."
  • "Matahari tersenyum menyambut pagi."
  • "Bulan mengintip dari balik awan."
  • "Ombak berkejar-kejaran menuju pantai."
  • "Jam dinding terus bernyanyi sepanjang malam."
  • "Bunga-bunga melambaikan tangan kepada kami."

Ciri-ciri Majas Personifikasi

  1. Benda mati atau alam seolah-olah hidup.
  2. Benda diberikan sifat manusia.
  3. Menggunakan kata kerja atau sifat yang biasanya dilakukan manusia.
  4. Membuat gambaran menjadi lebih hidup dan menarik.

Contoh dan Maknanya

KalimatMakna
Angin berbisik di pepohonan.Angin bertiup dengan suara lembut.
Daun menari tertiup angin.Daun bergerak karena tertiup angin.
Matahari tersenyum menyambut pagi.Matahari bersinar pada pagi hari.
Bulan mengintip dari balik awan.Bulan terlihat sebagian dari balik awan.

D. Perbedaan Metafora, Hiperbola, dan Personifikasi

Jenis MajasCiri UtamaContoh
MetaforaMembandingkan secara langsungRina adalah bintang kelas.
HiperbolaMenggunakan ungkapan berlebihanAku sudah menunggumu seribu tahun.
PersonifikasiBenda/alam diberi sifat manusiaAngin berbisik di pepohonan.

Cara Mudah Mengingat

Metafora → Membandingkan

Contoh:
"Dia adalah bintang kelas."

Hiperbola → Berlebihan

Contoh:
"Aku sudah mengatakannya sejuta kali."

Personifikasi → Benda seperti manusia

Contoh:
"Daun-daun menari."

Latihan soal :

Salinlah soal di buku latihan bahasa Indonesia kemudian langsung pilihlah jawaban sesuai dengan jawaban yang tepat

  1. “Angin berbisik lembut di telingaku.”
    a. Metafora
    b. Personifikasi
    c. Hiperbola
  2. “Ia adalah kembang desa di kampungnya.”
    a. Metafora
    b. Personifikasi
    c. Hiperbola
  3. “Kecantikannya melelehkan hatiku.”
    a. Metafora
    b. Personifikasi
    c. Hiperbola
  4. “Banjir bandang itu telah menghancurkan rumah-rumah di tepi sungai.”
    a. Metafora
    b. Personifikasi
    c. Hiperbola
  5. “Rambutnya hitam pekat bagai malam tanpa bintang.”
    a. Metafora
    b. Personifikasi
    c. Hiperbola

Penutup
Demikian pembelajaran hari ini, semoga bermanfaat. dan kita akan lanjutkan pada pertemua selanjutnya.

Kamis, 03 September 2026

Materi Ajar seni rupa Kamis, 3 September 2026

 

IDENTITAS

Nama Guru: Yuyun Eka Purwanti, S.Pd
Mapel: Seni Rupa
Hari/Tanggal: Kamis, 3 September 2026
Fase/Kelas: Fase C / Kelas V (Lima)
Materi: Makrame
Pertemuan ke: 13

CAPAIAN PEMBELAJARAN

Mengalami, Menciptakan, dan Merefleksikan:
Peserta didik mampu mengamati, mengenal, mengeksplorasi, dan menciptakan karya seni rupa dengan memanfaatkan berbagai bahan dan teknik. Peserta didik mampu mengembangkan kreativitas, keterampilan, ketekunan, serta menunjukkan sikap menghargai karya seni dan proses berkarya.

TUJUAN PEMBELAJARAN

Peserta didik mampu:

  1. memahami pengertian dan fungsi makrame;
  2. mengenal alat dan bahan yang digunakan untuk membuat makrame;
  3. mengidentifikasi berbagai jenis simpul dasar dalam makrame;
  4. memahami langkah-langkah pembuatan karya makrame sederhana;
  5. mempraktikkan teknik simpul dasar makrame dengan tepat;
  6. membuat karya makrame sederhana dengan kreatif dan rapi;
  7. memilih kombinasi warna dan bentuk yang sesuai dalam karya makrame;
  8. menunjukkan sikap teliti, sabar, mandiri, dan bertanggung jawab selama proses berkarya;
  9. mempresentasikan dan menceritakan proses pembuatan karya makrame;
  10. merefleksikan pengalaman dan hasil karya makrame yang telah dibuat.

TP MINDFUL, MEANINGFUL, DAN JOYFUL

1. Mindful Learning (Berkesadaran)

Peserta didik mampu mengamati contoh karya makrame dengan penuh perhatian untuk mengenali bentuk, pola, warna, bahan, dan teknik simpul yang digunakan.

Peserta didik menyadari bahwa membuat makrame membutuhkan ketelitian, kesabaran, konsentrasi, dan koordinasi antara mata dan tangan.

Peserta didik mampu mengikuti setiap langkah pembuatan simpul secara perlahan dan teliti serta memeriksa kembali kerapian hasil karyanya.

Peserta didik menyadari bahwa setiap kesalahan dalam membuat simpul merupakan bagian dari proses belajar dan dapat diperbaiki dengan sabar.

2. Meaningful Learning (Bermakna)

Peserta didik mampu menghubungkan karya makrame dengan benda-benda yang dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti hiasan dinding, gantungan kunci, gelang, tempat tanaman, atau dekorasi ruangan.

Peserta didik memahami bahwa bahan sederhana seperti tali dapat diolah menjadi karya seni yang memiliki nilai keindahan dan fungsi.

Peserta didik mampu memanfaatkan kreativitas untuk membuat karya yang dapat digunakan atau dijadikan sebagai hiasan.

Peserta didik menyadari pentingnya menggunakan bahan secara bijak dan tidak membuang bahan yang masih dapat dimanfaatkan.

3. Joyful Learning (Menggembirakan)

Peserta didik mampu mempelajari makrame melalui kegiatan yang menyenangkan seperti mengamati contoh karya, menonton video tutorial, mencoba berbagai simpul, permainan tebak simpul, bekerja secara berpasangan atau berkelompok, serta membuat karya makrame sederhana.

Peserta didik menunjukkan antusiasme, rasa ingin tahu, kreativitas, keberanian mencoba, dan rasa percaya diri selama proses berkarya.

Peserta didik menikmati proses membuat karya makrame dan menghargai hasil karya diri sendiri maupun teman.

ATP (ALUR TUJUAN PEMBELAJARAN)

Peserta didik mengenal pengertian, fungsi, dan karakteristik karya makrame.

Peserta didik mengidentifikasi alat dan bahan yang digunakan untuk membuat makrame.

Peserta didik mengamati berbagai contoh karya makrame dan menemukan unsur rupa yang terdapat di dalamnya.

Peserta didik mengenal dan membedakan beberapa simpul dasar yang digunakan dalam pembuatan makrame.

Peserta didik mempraktikkan teknik membuat simpul dasar makrame dengan memperhatikan urutan langkah dan kerapian.

Peserta didik mengeksplorasi kombinasi simpul, warna, dan bentuk untuk menghasilkan karya makrame sederhana.

Peserta didik menciptakan karya makrame sederhana secara mandiri atau berkelompok dengan memperhatikan unsur keindahan dan fungsi.

Peserta didik mempresentasikan karya makrame dan menjelaskan proses pembuatannya.

Peserta didik merefleksikan proses berkarya, kesulitan yang dihadapi, serta hal yang dipelajari dari kegiatan membuat makrame.

MATERI

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

الـحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَـمِيْنَ ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الأَنْبِيَاءِ وَالـمُرْسَلِيْنَ ، نَبِيِّنَا وَحَبِيْبِنَا مُـحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْـمَعِيْنَ ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ ، أَمَّا بَعْدُ

Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin, wassholaatu wassalaamu ‘alaa asyroofil anbiyaa-i wal mursaliin, nabiyyinaa wahabiibinaa muhammadin, wa’ala alihi washahbihi aj’ma’iin, wa man tabi’ahum biihsaanin ilaa yaumiddiin, amma ba’du.

Sebelum kita masuk ke pembelajaran Seni Rupa, mari kita renungkan kebesaran Allah SWT.

Al-Khaliq (Maha Menciptakan)

Allah SWT adalah Al-Khaliq, yaitu Zat Yang Maha Menciptakan. Allah menciptakan berbagai macam benda, tumbuhan, hewan, dan manusia dengan bentuk serta keindahan yang berbeda-beda.

Allah juga memberikan manusia akal, tangan, dan kreativitas agar manusia dapat mengolah berbagai bahan menjadi sesuatu yang bermanfaat dan indah.

Melalui kegiatan membuat makrame, kita belajar menggunakan tangan dan kreativitas sebagai bentuk rasa syukur atas kemampuan yang Allah SWT berikan.

Al-Musawwir (Maha Membentuk)

Allah SWT adalah Al-Musawwir, Zat Yang Maha Membentuk. Segala sesuatu yang diciptakan Allah memiliki bentuk dan keindahan.

Ketika membuat karya makrame, kita juga belajar mengatur bentuk, pola, dan susunan tali sehingga menghasilkan karya yang indah.

Oleh karena itu, kita harus menggunakan kemampuan berkarya dengan baik dan tidak lupa bersyukur kepada Allah SWT.


APERSEPSI

Guru menunjukkan atau menampilkan beberapa contoh karya makrame.

Guru mengajak peserta didik mengamati karya tersebut.

Guru bertanya:

"Anak-anak, pernahkah kalian melihat benda seperti ini?"

"Menurut kalian, benda tersebut dibuat dari bahan apa?"

"Bagaimana cara tali-tali tersebut dapat membentuk pola yang indah?"

"Apakah tali yang sederhana dapat dibuat menjadi sebuah karya seni?"

Guru kemudian mengajak peserta didik memperhatikan pola pada karya makrame.

Guru menjelaskan:

"Hari ini kita akan belajar tentang makrame. Makrame merupakan salah satu karya seni yang dibuat dengan teknik mengikat atau menyimpulkan tali sehingga menghasilkan pola dan bentuk yang indah."

Guru menyampaikan bahwa dalam membuat makrame diperlukan kesabaran, ketelitian, kreativitas, dan keterampilan tangan.


MATERI: MAKRAME

A. Pengertian Makrame

Makrame adalah karya seni yang dibuat dengan menggunakan teknik mengikat dan menyimpulkan tali sehingga menghasilkan bentuk, pola, atau hiasan tertentu.

Makrame dapat dibuat menjadi berbagai macam benda, baik sebagai hiasan maupun benda yang memiliki fungsi dalam kehidupan sehari-hari.

Contohnya adalah:

  • hiasan dinding;
  • gantungan kunci;
  • gelang;
  • gantungan pot;
  • hiasan meja;
  • gantungan dekorasi;
  • tempat penyimpanan sederhana.

Makrame menarik karena dari bahan yang sederhana, yaitu tali, kita dapat menghasilkan karya yang memiliki nilai keindahan dan fungsi.


B. Alat dan Bahan Makrame

Untuk membuat makrame sederhana, kita dapat menggunakan beberapa alat dan bahan.

1. Tali

Tali merupakan bahan utama untuk membuat makrame.

Jenis tali yang dapat digunakan antara lain tali katun, tali kur, tali rami, atau jenis tali lain yang sesuai.

2. Gunting

Gunting digunakan untuk memotong tali sesuai dengan ukuran yang dibutuhkan.

Saat menggunakan gunting, kita harus berhati-hati dan menggunakannya sesuai fungsinya.

3. Kayu atau Ring

Kayu, stik, atau ring dapat digunakan sebagai tempat mengikat tali pada beberapa jenis karya makrame.

4. Manik-manik

Manik-manik dapat digunakan sebagai tambahan dekorasi agar karya terlihat lebih menarik.

5. Bahan Pendukung Lain

Kita juga dapat menggunakan bahan lain sesuai dengan rancangan karya, misalnya pita, batang kayu kecil, atau benda lain yang aman digunakan.


C. Teknik Dasar Makrame

Makrame dibuat dengan berbagai macam teknik simpul.

Beberapa simpul dasar yang dapat dipelajari adalah:

1. Simpul Kepala

Simpul kepala dapat digunakan untuk mengikat tali pada kayu, ring, atau media lainnya sebagai bagian awal pembuatan makrame.

2. Simpul Mati

Simpul mati merupakan salah satu bentuk simpul sederhana yang digunakan untuk mengikat tali agar tidak mudah terlepas.

3. Simpul Persegi

Simpul persegi dapat menghasilkan pola yang menarik dan sering digunakan dalam berbagai karya makrame.

4. Simpul Spiral

Simpul spiral dapat menghasilkan pola seperti lilitan atau bentuk berputar.

Setiap jenis simpul memiliki cara pembuatan dan bentuk yang berbeda.

Karena itu, kita harus memperhatikan urutan langkah ketika mempraktikkannya.


D. Langkah-Langkah Membuat Makrame Sederhana

Untuk membuat makrame sederhana, langkah-langkahnya dapat dilakukan sebagai berikut:

Langkah 1: Menyiapkan Alat dan Bahan

Siapkan tali, gunting, kayu atau ring, serta bahan tambahan jika diperlukan.

Langkah 2: Menentukan Ukuran Tali

Potong tali sesuai dengan ukuran yang diperlukan.

Usahakan ukuran tali dibuat dengan tepat agar karya terlihat rapi.

Langkah 3: Memasang Tali

Pasangkan tali pada kayu atau ring menggunakan simpul awal.

Langkah 4: Membuat Simpul

Mulailah membuat simpul sesuai pola yang telah direncanakan.

Lakukan secara perlahan dan perhatikan setiap bagian tali.

Langkah 5: Mengatur Pola

Susun simpul secara berulang hingga membentuk pola yang diinginkan.

Langkah 6: Merapikan Karya

Periksa kembali simpul dan panjang tali.

Rapikan bagian yang belum sesuai.

Langkah 7: Finishing

Potong bagian tali yang terlalu panjang jika diperlukan dan tambahkan hiasan sesuai kreativitas.


E. Unsur Seni Rupa dalam Makrame

Dalam membuat karya makrame, kita dapat memperhatikan beberapa unsur seni rupa.

1. Garis

Tali yang digunakan dalam makrame membentuk berbagai garis, baik garis lurus, diagonal, maupun lengkung.

2. Bentuk

Susunan tali dan simpul dapat menghasilkan berbagai bentuk.

3. Warna

Penggunaan warna tali dapat membuat karya terlihat lebih menarik.

4. Tekstur

Makrame memiliki tekstur yang dapat dirasakan karena menggunakan tali yang disimpulkan dan disusun.

5. Pola

Pengulangan simpul dapat menghasilkan pola tertentu sehingga karya terlihat lebih teratur dan indah.


F. Prinsip Keindahan dalam Membuat Makrame

Agar karya makrame terlihat menarik, kita dapat memperhatikan:

Kerapian
Simpul dibuat dengan rapi dan tidak berantakan.

Keseimbangan
Susunan tali dan simpul dibuat seimbang.

Pengulangan
Simpul dapat diulang sehingga menghasilkan pola yang teratur.

Kesatuan
Warna, bentuk, dan pola disusun agar menjadi satu karya yang harmonis.

Kreativitas
Peserta didik dapat mengembangkan pola sesuai dengan ide dan imajinasinya.


G. Makrame dalam Kehidupan Sehari-hari

Makrame tidak hanya dibuat sebagai karya seni, tetapi juga dapat memiliki fungsi.

Contohnya:

  • sebagai hiasan kamar;
  • sebagai hiasan kelas;
  • sebagai gantungan pot;
  • sebagai gantungan kunci;
  • sebagai dekorasi rumah;
  • sebagai hadiah untuk orang lain.

Hal ini menunjukkan bahwa seni dapat hadir dan memberikan manfaat dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan kreativitas, bahan sederhana dapat diubah menjadi sesuatu yang indah dan bermanfaat.


H. Mari Berkreasi!

Sekarang saatnya kita membuat karya makrame sederhana.

Sebelum mulai berkarya, perhatikan beberapa hal berikut:

  1. Siapkan alat dan bahan dengan lengkap.
  2. Gunakan gunting dengan hati-hati.
  3. Perhatikan contoh simpul yang diberikan.
  4. Buat simpul secara perlahan.
  5. Jangan mudah menyerah ketika simpul belum berhasil.
  6. Rapikan tali dan pola karya.
  7. Gunakan kreativitas untuk memilih warna dan bentuk.
  8. Hargai karya teman.

Ingat!

Karya yang baik bukan hanya karya yang indah, tetapi juga karya yang dibuat dengan sabar, teliti, kreatif, dan penuh tanggung jawab.


SIMAK VIDEO BERIKUT!



Setelah menyimak video, peserta didik diajak menemukan:

  • alat dan bahan yang digunakan;
  • jenis simpul yang dibuat;
  • urutan langkah pembuatan;
  • pola yang dihasilkan;
  • cara merapikan karya.