Jumat, 25 September 2026

Materi Ajar Kokulikuler Jumat, 24 September 2026

 



IDENTITAS

  1. Nama Guru : Yuyun Eka Purwanti, S.Pd

  2. Mapel : Kokulikuler

  3. Hari/Tanggal : Jumat, 25 September 2026

  4. Fase/Kelas : Fase C / Kelas V (Lima)

  5. Materi : Tarian Khas La,pung

  6. Pertemuan ke : 17

Capaian Pembelajaran
:
  Peserta didik mengenali keberagaman budaya Indonesia melalui tarian tradisional Lampung sebagai bagian dari identitas daerah. Peserta didik mampu mengidentifikasi nama, asal, makna, fungsi, kostum, properti, serta gerak dasar tari tradisional Lampung. Peserta didik menunjukkan sikap bangga, menghargai keberagaman budaya, bekerja sama, dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan mengenal serta mempraktikkan gerak dasar tari tradisional Lampung sebagai bentuk pelestarian budaya bangsa.

Tujuan Pembelajaran
:
Peserta didik mengenali keberagaman budaya Indonesia melalui tarian tradisional Lampung sebagai bagian dari identitas daerah, mampu mengidentifikasi nama, asal, makna, fungsi, kostum, properti, serta gerak dasar tari tradisional Lampung, serta menunjukkan sikap bangga dan menghargai keberagaman budaya.

TP Mindful, Meaningful, dan Joyful:

  • 1. Mindful Learning (Berkesadaran)
    Peserta didik mampu mengamati dan mengenali keberagaman tari tradisional Lampung dengan penuh perhatian melalui gambar, video, atau pertunjukan, kemudian mengidentifikasi nama, asal daerah, makna, fungsi, kostum, properti, dan gerak dasar tari serta menyadari bahwa setiap tari memiliki nilai dan identitas budaya yang perlu dihargai.

    2. Meaningful Learning (Bermakna)
    Peserta didik mampu menghubungkan unsur dan makna tari tradisional Lampung dengan kehidupan masyarakat, nilai-nilai budaya, dan identitas daerah, serta merefleksikan pentingnya menjaga dan melestarikan budaya daerah sebagai bagian dari keberagaman budaya Indonesia.

    3. Joyful Learning (Menggembirakan)
    Peserta didik mampu menirukan dan mengeksplorasi gerak dasar tari tradisional Lampung secara sederhana melalui kegiatan yang menyenangkan, kreatif, dan kolaboratif, serta menunjukkan rasa percaya diri, bangga, dan menghargai keberagaman budaya.

ATP (Alur Tujuan Pembelajaran):

  1. mengenali dan mengidentifikasi keberagaman tari tradisional Lampung berdasarkan nama dan asal daerahnya dengan penuh perhatian serta menunjukkan sikap menghargai keberagaman budaya.

  2. menghubungkan makna, fungsi, kostum, properti, dan gerak dasar tari tradisional Lampung dengan kehidupan serta identitas masyarakat Lampung.

  3. menirukan dan mengeksplorasi gerak dasar tari tradisional Lampung secara sederhana dengan percaya diri, kreatif, dan menghargai karakteristik gerak tari.

MATERI

Assalamu'alaikum Wr.Wb.

 الـحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَـمِيْنَ ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الأَنْبِيَاءِ وَالـمُرْسَلِيْنَ ، نَبِيِّنَا وَحَبِيْبِنَا مُـحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْـمَعِيْنَ ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ ، أَمَّا بَعْدُ

Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin, wassholaatu wassalaamu ‘alaa asyroofil anbiyaa-i wal mursaliin, nabiyyinaa wahabiibinaa muhammadin, wa’ala alihi washahbihi aj’ma’iin,wa mantabi’ahum biihsanin ilaa yaumiddin, Amma ba’du.

Sebelum kita masuk ke pembelajaran Kokulikuler mari kita renungkan kebesaran Allah SWT

  • Al-Khaliq (Maha Menciptakan): Allah SWT adalah zat yang menciptakan alam semesta beserta isinya, termasuk sumber daya alam yang melimpah dan potensi akal manusia.
  • Al-Malik (Maha Memelihara/Merajai): Allah SWT adalah penguasa mutlak yang mengatur, menjaga, dan memelihara keseimbangan alam agar tetap harmonis dan tidak rusak.
  • Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki): Allah SWT yang menjamin dan melimpahkan rezeki bagi seluruh makhluk-Nya melalui kekayaan alam dan kemampuan kerja manusia.
Apersepsi

"Anak-anak, Allah Swt. menciptakan manusia dengan berbagai suku, bangsa, bahasa, dan budaya. Perbedaan tersebut bukan untuk saling membeda-bedakan, tetapi agar kita saling mengenal, menghargai, dan hidup berdampingan."

"Indonesia adalah negara yang memiliki banyak sekali budaya. Salah satunya adalah budaya Lampung, daerah tempat kita tinggal. Lampung memiliki berbagai tarian tradisional yang memiliki gerakan, pakaian, musik, dan makna yang khas. Keberagaman tarian tersebut merupakan kekayaan budaya yang patut kita syukuri dan kita lestarikan."

Materi :
Eksplorasi tarian Lampung mencakup pelestarian ragam seni gerak tradisional dan kreasi baru yang kaya makna budaya, seperti Tari Sigeh Pengunten, Tari Bedana, dan Tari Melinting.

Jenis-Jenis Tarian Utama :
1. Tari Sigeh Pengunten: Gabungan adat Pepadun dan Saibatin untuk menyambut tamu agung.
2. Tari Bedana: Tarian pergaulan bernapas Islam yang melambangkan keterbukaan masyarakat.
3. Tari Cangget: Ritual pemuda-pemudi dalam acara adat, panen raya, atau pernikahan.Tari Melinting: Tarian klasik dari Lampung Timur yang dibawakan bangsawan kerajaan.
4. Tari Tuping: Drama tari topeng tradisional yang menggambarkan kepahlawanan dan rasa syukur.Unsur dan Ciri KhasGerakan: Lembut, dinamis, serta sarat gestur penghormatan dan keramahan.
5. Tari Cak Culay Na'bui Na'bui digunakan sebagai tari hiburan dan pergaulan masyarakat, yang menggambarkan suasana gembira, kebersamaan, dan interaksi sosial.

Busana: Didominasi warna cerah dengan mahkota khas seperti Siger dan atribut keemasan.Musik: Diiringi alat musik tradisional seperti gamolan pekhing, gundang, dan petting atau gitar tunggal. Salah satu tarian Lampung 

Penutup 

Demikian pembelajaran hari ini, semoga bermanfaat. dan kita akan lanjutkan pada pertemua selanjutnya.

Kamis, 24 September 2026

Materi ajar Kokulikuler Kamis, 24 September 2026

 



IDENTITAS

  1. Nama Guru : Yuyun Eka Purwanti, S.Pd

  2. Mapel : Kokulikuler

  3. Hari/Tanggal : Kamis, 24 September 2026

  4. Fase/Kelas : Fase C / Kelas V (Lima)

  5. Materi : Tarian Khas La,pung

  6. Pertemuan ke : 16

Capaian Pembelajaran
:
  Peserta didik mengenali keberagaman budaya Indonesia melalui tarian tradisional Lampung sebagai bagian dari identitas daerah. Peserta didik mampu mengidentifikasi nama, asal, makna, fungsi, kostum, properti, serta gerak dasar tari tradisional Lampung. Peserta didik menunjukkan sikap bangga, menghargai keberagaman budaya, bekerja sama, dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan mengenal serta mempraktikkan gerak dasar tari tradisional Lampung sebagai bentuk pelestarian budaya bangsa.

Tujuan Pembelajaran
:
Peserta didik mengenali keberagaman budaya Indonesia melalui tarian tradisional Lampung sebagai bagian dari identitas daerah, mampu mengidentifikasi nama, asal, makna, fungsi, kostum, properti, serta gerak dasar tari tradisional Lampung, serta menunjukkan sikap bangga dan menghargai keberagaman budaya.

TP Mindful, Meaningful, dan Joyful:

  • 1. Mindful Learning (Berkesadaran)
    Peserta didik mampu mengamati dan mengenali keberagaman tari tradisional Lampung dengan penuh perhatian melalui gambar, video, atau pertunjukan, kemudian mengidentifikasi nama, asal daerah, makna, fungsi, kostum, properti, dan gerak dasar tari serta menyadari bahwa setiap tari memiliki nilai dan identitas budaya yang perlu dihargai.

    2. Meaningful Learning (Bermakna)
    Peserta didik mampu menghubungkan unsur dan makna tari tradisional Lampung dengan kehidupan masyarakat, nilai-nilai budaya, dan identitas daerah, serta merefleksikan pentingnya menjaga dan melestarikan budaya daerah sebagai bagian dari keberagaman budaya Indonesia.

    3. Joyful Learning (Menggembirakan)
    Peserta didik mampu menirukan dan mengeksplorasi gerak dasar tari tradisional Lampung secara sederhana melalui kegiatan yang menyenangkan, kreatif, dan kolaboratif, serta menunjukkan rasa percaya diri, bangga, dan menghargai keberagaman budaya.

ATP (Alur Tujuan Pembelajaran):

  1. mengenali dan mengidentifikasi keberagaman tari tradisional Lampung berdasarkan nama dan asal daerahnya dengan penuh perhatian serta menunjukkan sikap menghargai keberagaman budaya.

  2. menghubungkan makna, fungsi, kostum, properti, dan gerak dasar tari tradisional Lampung dengan kehidupan serta identitas masyarakat Lampung.

  3. menirukan dan mengeksplorasi gerak dasar tari tradisional Lampung secara sederhana dengan percaya diri, kreatif, dan menghargai karakteristik gerak tari.

MATERI

Assalamu'alaikum Wr.Wb.

 الـحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَـمِيْنَ ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الأَنْبِيَاءِ وَالـمُرْسَلِيْنَ ، نَبِيِّنَا وَحَبِيْبِنَا مُـحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْـمَعِيْنَ ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ ، أَمَّا بَعْدُ

Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin, wassholaatu wassalaamu ‘alaa asyroofil anbiyaa-i wal mursaliin, nabiyyinaa wahabiibinaa muhammadin, wa’ala alihi washahbihi aj’ma’iin,wa mantabi’ahum biihsanin ilaa yaumiddin, Amma ba’du.

Sebelum kita masuk ke pembelajaran Kokulikuler mari kita renungkan kebesaran Allah SWT

  • Al-Khaliq (Maha Menciptakan): Allah SWT adalah zat yang menciptakan alam semesta beserta isinya, termasuk sumber daya alam yang melimpah dan potensi akal manusia.
  • Al-Malik (Maha Memelihara/Merajai): Allah SWT adalah penguasa mutlak yang mengatur, menjaga, dan memelihara keseimbangan alam agar tetap harmonis dan tidak rusak.
  • Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki): Allah SWT yang menjamin dan melimpahkan rezeki bagi seluruh makhluk-Nya melalui kekayaan alam dan kemampuan kerja manusia.
Apersepsi

"Anak-anak, Allah Swt. menciptakan manusia dengan berbagai suku, bangsa, bahasa, dan budaya. Perbedaan tersebut bukan untuk saling membeda-bedakan, tetapi agar kita saling mengenal, menghargai, dan hidup berdampingan."

"Indonesia adalah negara yang memiliki banyak sekali budaya. Salah satunya adalah budaya Lampung, daerah tempat kita tinggal. Lampung memiliki berbagai tarian tradisional yang memiliki gerakan, pakaian, musik, dan makna yang khas. Keberagaman tarian tersebut merupakan kekayaan budaya yang patut kita syukuri dan kita lestarikan."

Materi :
Eksplorasi tarian Lampung mencakup pelestarian ragam seni gerak tradisional dan kreasi baru yang kaya makna budaya, seperti Tari Sigeh Pengunten, Tari Bedana, dan Tari Melinting.

Jenis-Jenis Tarian Utama :
1. Tari Sigeh Pengunten: Gabungan adat Pepadun dan Saibatin untuk menyambut tamu agung.
2. Tari Bedana: Tarian pergaulan bernapas Islam yang melambangkan keterbukaan masyarakat.
3. Tari Cangget: Ritual pemuda-pemudi dalam acara adat, panen raya, atau pernikahan.Tari Melinting: Tarian klasik dari Lampung Timur yang dibawakan bangsawan kerajaan.
4. Tari Tuping: Drama tari topeng tradisional yang menggambarkan kepahlawanan dan rasa syukur.Unsur dan Ciri KhasGerakan: Lembut, dinamis, serta sarat gestur penghormatan dan keramahan.
5. Tari Cak Culay Na'bui Na'bui digunakan sebagai tari hiburan dan pergaulan masyarakat, yang menggambarkan suasana gembira, kebersamaan, dan interaksi sosial.

Busana: Didominasi warna cerah dengan mahkota khas seperti Siger dan atribut keemasan.Musik: Diiringi alat musik tradisional seperti gamolan pekhing, gundang, dan petting atau gitar tunggal. Salah satu tarian Lampung 

Refleksi Pembelajaran

  • Untuk Siswa: Alhamdulillah, hari ini ananda mengikuti kegiatan kokurikuler dengan baik. Ananda dapat mengenal dan memahami berbagai hal tentang tarian daerah Lampung, serta menunjukkan antusiasme dalam mengikuti kegiatan. Siswa dapat mengenal gerakan dan makna sederhana yang terdapat dalam tarian Lampung serta ikut berpartisipasi dengan tertib dan percaya diri.
  • Untuk Guru: Pembelajaran kokurikuler berjalan dengan baik dan siswa menunjukkan antusiasme dalam mengikuti kegiatan. Guru memberikan arahan dan contoh gerakan agar siswa lebih mudah memahami dan mempraktikkan tarian Lampung. Kegiatan juga menjadi sarana untuk menumbuhkan rasa cinta dan bangga terhadap budaya daerah.

Kesimpulan Pembelajaran

Kegiatan kokurikuler hari ini memberikan pengalaman kepada siswa untuk mengenal dan melestarikan budaya daerah Lampung melalui seni tari. Siswa memahami bahwa tarian daerah merupakan bagian dari kekayaan budaya yang perlu dihargai, dijaga, dan dilestarikan.

Penutup 

Demikian pembelajaran hari ini, semoga bermanfaat. dan kita akan lanjutkan pada pertemua selanjutnya.

Materi ajar seni Rupa, Kamis 24 September 2026

 

IDENTITAS

Nama Guru: Yuyun Eka Purwanti, S.Pd
Mapel: Seni Rupa
Hari/Tanggal: Kamis, 24 September 2026
Fase/Kelas: Fase C / Kelas V (Lima)
Materi: Makrame
Pertemuan ke: 16

CAPAIAN PEMBELAJARAN

Mengalami, Menciptakan, dan Merefleksikan:
Peserta didik mampu mengamati, mengenal, mengeksplorasi, dan menciptakan karya seni rupa dengan memanfaatkan berbagai bahan dan teknik. Peserta didik mampu mengembangkan kreativitas, keterampilan, ketekunan, serta menunjukkan sikap menghargai karya seni dan proses berkarya.

TUJUAN PEMBELAJARAN

Peserta didik mampu:

  1. memahami pengertian dan fungsi makrame;
  2. mengenal alat dan bahan yang digunakan untuk membuat makrame;
  3. mengidentifikasi berbagai jenis simpul dasar dalam makrame;
  4. memahami langkah-langkah pembuatan karya makrame sederhana;
  5. mempraktikkan teknik simpul dasar makrame dengan tepat;
  6. membuat karya makrame sederhana dengan kreatif dan rapi;
  7. memilih kombinasi warna dan bentuk yang sesuai dalam karya makrame;
  8. menunjukkan sikap teliti, sabar, mandiri, dan bertanggung jawab selama proses berkarya;
  9. mempresentasikan dan menceritakan proses pembuatan karya makrame;
  10. merefleksikan pengalaman dan hasil karya makrame yang telah dibuat.

TP MINDFUL, MEANINGFUL, DAN JOYFUL

1. Mindful Learning (Berkesadaran)

Peserta didik mampu mengamati contoh karya makrame dengan penuh perhatian untuk mengenali bentuk, pola, warna, bahan, dan teknik simpul yang digunakan.

Peserta didik menyadari bahwa membuat makrame membutuhkan ketelitian, kesabaran, konsentrasi, dan koordinasi antara mata dan tangan.

Peserta didik mampu mengikuti setiap langkah pembuatan simpul secara perlahan dan teliti serta memeriksa kembali kerapian hasil karyanya.

Peserta didik menyadari bahwa setiap kesalahan dalam membuat simpul merupakan bagian dari proses belajar dan dapat diperbaiki dengan sabar.

2. Meaningful Learning (Bermakna)

Peserta didik mampu menghubungkan karya makrame dengan benda-benda yang dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti hiasan dinding, gantungan kunci, gelang, tempat tanaman, atau dekorasi ruangan.

Peserta didik memahami bahwa bahan sederhana seperti tali dapat diolah menjadi karya seni yang memiliki nilai keindahan dan fungsi.

Peserta didik mampu memanfaatkan kreativitas untuk membuat karya yang dapat digunakan atau dijadikan sebagai hiasan.

Peserta didik menyadari pentingnya menggunakan bahan secara bijak dan tidak membuang bahan yang masih dapat dimanfaatkan.

3. Joyful Learning (Menggembirakan)

Peserta didik mampu mempelajari makrame melalui kegiatan yang menyenangkan seperti mengamati contoh karya, menonton video tutorial, mencoba berbagai simpul, permainan tebak simpul, bekerja secara berpasangan atau berkelompok, serta membuat karya makrame sederhana.

Peserta didik menunjukkan antusiasme, rasa ingin tahu, kreativitas, keberanian mencoba, dan rasa percaya diri selama proses berkarya.

Peserta didik menikmati proses membuat karya makrame dan menghargai hasil karya diri sendiri maupun teman.

ATP (ALUR TUJUAN PEMBELAJARAN)

Peserta didik mengenal pengertian, fungsi, dan karakteristik karya makrame.

Peserta didik mengidentifikasi alat dan bahan yang digunakan untuk membuat makrame.

Peserta didik mengamati berbagai contoh karya makrame dan menemukan unsur rupa yang terdapat di dalamnya.

Peserta didik mengenal dan membedakan beberapa simpul dasar yang digunakan dalam pembuatan makrame.

Peserta didik mempraktikkan teknik membuat simpul dasar makrame dengan memperhatikan urutan langkah dan kerapian.

Peserta didik mengeksplorasi kombinasi simpul, warna, dan bentuk untuk menghasilkan karya makrame sederhana.

Peserta didik menciptakan karya makrame sederhana secara mandiri atau berkelompok dengan memperhatikan unsur keindahan dan fungsi.

Peserta didik mempresentasikan karya makrame dan menjelaskan proses pembuatannya.

Peserta didik merefleksikan proses berkarya, kesulitan yang dihadapi, serta hal yang dipelajari dari kegiatan membuat makrame.

MATERI

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

الـحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَـمِيْنَ ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الأَنْبِيَاءِ وَالـمُرْسَلِيْنَ ، نَبِيِّنَا وَحَبِيْبِنَا مُـحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْـمَعِيْنَ ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ ، أَمَّا بَعْدُ

Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin, wassholaatu wassalaamu ‘alaa asyroofil anbiyaa-i wal mursaliin, nabiyyinaa wahabiibinaa muhammadin, wa’ala alihi washahbihi aj’ma’iin, wa man tabi’ahum biihsaanin ilaa yaumiddiin, amma ba’du.

Sebelum kita masuk ke pembelajaran Seni Rupa, mari kita renungkan kebesaran Allah SWT.

Al-Khaliq (Maha Menciptakan)

Allah SWT adalah Al-Khaliq, yaitu Zat Yang Maha Menciptakan. Allah menciptakan berbagai macam benda, tumbuhan, hewan, dan manusia dengan bentuk serta keindahan yang berbeda-beda.

Allah juga memberikan manusia akal, tangan, dan kreativitas agar manusia dapat mengolah berbagai bahan menjadi sesuatu yang bermanfaat dan indah.

Melalui kegiatan membuat makrame, kita belajar menggunakan tangan dan kreativitas sebagai bentuk rasa syukur atas kemampuan yang Allah SWT berikan.

Al-Musawwir (Maha Membentuk)

Allah SWT adalah Al-Musawwir, Zat Yang Maha Membentuk. Segala sesuatu yang diciptakan Allah memiliki bentuk dan keindahan.

Ketika membuat karya makrame, kita juga belajar mengatur bentuk, pola, dan susunan tali sehingga menghasilkan karya yang indah.

Oleh karena itu, kita harus menggunakan kemampuan berkarya dengan baik dan tidak lupa bersyukur kepada Allah SWT.


APERSEPSI

Guru menunjukkan atau menampilkan beberapa contoh karya makrame.

Guru mengajak peserta didik mengamati karya tersebut.

Guru bertanya:

"Anak-anak, pernahkah kalian melihat benda seperti ini?"

"Menurut kalian, benda tersebut dibuat dari bahan apa?"

"Bagaimana cara tali-tali tersebut dapat membentuk pola yang indah?"

"Apakah tali yang sederhana dapat dibuat menjadi sebuah karya seni?"

Guru kemudian mengajak peserta didik memperhatikan pola pada karya makrame.

Guru menjelaskan:

"Hari ini kita akan belajar tentang makrame. Makrame merupakan salah satu karya seni yang dibuat dengan teknik mengikat atau menyimpulkan tali sehingga menghasilkan pola dan bentuk yang indah."

Guru menyampaikan bahwa dalam membuat makrame diperlukan kesabaran, ketelitian, kreativitas, dan keterampilan tangan.


MATERI: MAKRAME

A. Pengertian Makrame

Makrame adalah karya seni yang dibuat dengan menggunakan teknik mengikat dan menyimpulkan tali sehingga menghasilkan bentuk, pola, atau hiasan tertentu.

Makrame dapat dibuat menjadi berbagai macam benda, baik sebagai hiasan maupun benda yang memiliki fungsi dalam kehidupan sehari-hari.

Contohnya adalah:

  • hiasan dinding;
  • gantungan kunci;
  • gelang;
  • gantungan pot;
  • hiasan meja;
  • gantungan dekorasi;
  • tempat penyimpanan sederhana.

Makrame menarik karena dari bahan yang sederhana, yaitu tali, kita dapat menghasilkan karya yang memiliki nilai keindahan dan fungsi.


B. Alat dan Bahan Makrame

Untuk membuat makrame sederhana, kita dapat menggunakan beberapa alat dan bahan.

1. Tali

Tali merupakan bahan utama untuk membuat makrame.

Jenis tali yang dapat digunakan antara lain tali katun, tali kur, tali rami, atau jenis tali lain yang sesuai.

2. Gunting

Gunting digunakan untuk memotong tali sesuai dengan ukuran yang dibutuhkan.

Saat menggunakan gunting, kita harus berhati-hati dan menggunakannya sesuai fungsinya.

3. Kayu atau Ring

Kayu, stik, atau ring dapat digunakan sebagai tempat mengikat tali pada beberapa jenis karya makrame.

4. Manik-manik

Manik-manik dapat digunakan sebagai tambahan dekorasi agar karya terlihat lebih menarik.

5. Bahan Pendukung Lain

Kita juga dapat menggunakan bahan lain sesuai dengan rancangan karya, misalnya pita, batang kayu kecil, atau benda lain yang aman digunakan.


C. Teknik Dasar Makrame

Makrame dibuat dengan berbagai macam teknik simpul.

Beberapa simpul dasar yang dapat dipelajari adalah:

1. Simpul Kepala

Simpul kepala dapat digunakan untuk mengikat tali pada kayu, ring, atau media lainnya sebagai bagian awal pembuatan makrame.

2. Simpul Mati

Simpul mati merupakan salah satu bentuk simpul sederhana yang digunakan untuk mengikat tali agar tidak mudah terlepas.

3. Simpul Persegi

Simpul persegi dapat menghasilkan pola yang menarik dan sering digunakan dalam berbagai karya makrame.

4. Simpul Spiral

Simpul spiral dapat menghasilkan pola seperti lilitan atau bentuk berputar.

Setiap jenis simpul memiliki cara pembuatan dan bentuk yang berbeda.

Karena itu, kita harus memperhatikan urutan langkah ketika mempraktikkannya.


D. Langkah-Langkah Membuat Makrame Sederhana

Untuk membuat makrame sederhana, langkah-langkahnya dapat dilakukan sebagai berikut:

Langkah 1: Menyiapkan Alat dan Bahan

Siapkan tali, gunting, kayu atau ring, serta bahan tambahan jika diperlukan.

Langkah 2: Menentukan Ukuran Tali

Potong tali sesuai dengan ukuran yang diperlukan.

Usahakan ukuran tali dibuat dengan tepat agar karya terlihat rapi.

Langkah 3: Memasang Tali

Pasangkan tali pada kayu atau ring menggunakan simpul awal.

Langkah 4: Membuat Simpul

Mulailah membuat simpul sesuai pola yang telah direncanakan.

Lakukan secara perlahan dan perhatikan setiap bagian tali.

Langkah 5: Mengatur Pola

Susun simpul secara berulang hingga membentuk pola yang diinginkan.

Langkah 6: Merapikan Karya

Periksa kembali simpul dan panjang tali.

Rapikan bagian yang belum sesuai.

Langkah 7: Finishing

Potong bagian tali yang terlalu panjang jika diperlukan dan tambahkan hiasan sesuai kreativitas.


E. Unsur Seni Rupa dalam Makrame

Dalam membuat karya makrame, kita dapat memperhatikan beberapa unsur seni rupa.

1. Garis

Tali yang digunakan dalam makrame membentuk berbagai garis, baik garis lurus, diagonal, maupun lengkung.

2. Bentuk

Susunan tali dan simpul dapat menghasilkan berbagai bentuk.

3. Warna

Penggunaan warna tali dapat membuat karya terlihat lebih menarik.

4. Tekstur

Makrame memiliki tekstur yang dapat dirasakan karena menggunakan tali yang disimpulkan dan disusun.

5. Pola

Pengulangan simpul dapat menghasilkan pola tertentu sehingga karya terlihat lebih teratur dan indah.


F. Prinsip Keindahan dalam Membuat Makrame

Agar karya makrame terlihat menarik, kita dapat memperhatikan:

Kerapian
Simpul dibuat dengan rapi dan tidak berantakan.

Keseimbangan
Susunan tali dan simpul dibuat seimbang.

Pengulangan
Simpul dapat diulang sehingga menghasilkan pola yang teratur.

Kesatuan
Warna, bentuk, dan pola disusun agar menjadi satu karya yang harmonis.

Kreativitas
Peserta didik dapat mengembangkan pola sesuai dengan ide dan imajinasinya.


G. Makrame dalam Kehidupan Sehari-hari

Makrame tidak hanya dibuat sebagai karya seni, tetapi juga dapat memiliki fungsi.

Contohnya:

  • sebagai hiasan kamar;
  • sebagai hiasan kelas;
  • sebagai gantungan pot;
  • sebagai gantungan kunci;
  • sebagai dekorasi rumah;
  • sebagai hadiah untuk orang lain.

Hal ini menunjukkan bahwa seni dapat hadir dan memberikan manfaat dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan kreativitas, bahan sederhana dapat diubah menjadi sesuatu yang indah dan bermanfaat.


H. Mari Berkreasi!

Sekarang saatnya kita membuat karya makrame sederhana.

Sebelum mulai berkarya, perhatikan beberapa hal berikut:

  1. Siapkan alat dan bahan dengan lengkap.
  2. Gunakan gunting dengan hati-hati.
  3. Perhatikan contoh simpul yang diberikan.
  4. Buat simpul secara perlahan.
  5. Jangan mudah menyerah ketika simpul belum berhasil.
  6. Rapikan tali dan pola karya.
  7. Gunakan kreativitas untuk memilih warna dan bentuk.
  8. Hargai karya teman.

Ingat!

Karya yang baik bukan hanya karya yang indah, tetapi juga karya yang dibuat dengan sabar, teliti, kreatif, dan penuh tanggung jawab.


SIMAK VIDEO BERIKUT!



Setelah menyimak video, peserta didik diajak menemukan:

  • alat dan bahan yang digunakan;
  • jenis simpul yang dibuat;
  • urutan langkah pembuatan;
  • pola yang dihasilkan;
  • cara merapikan karya.

Rabu, 23 September 2026

Materi Ajar Bahasa Indonesia Rabu, 23 September 2026

 

IDENTITAS

  1. Nama Guru : Yuyun Eka Purwanti, S.Pd
  2. Mapel : Bahasa Indonesia
  3. Hari/Tanggal : Rabu, 23 September 2026
  4. Fase/Kelas : Fase C / Kelas V (Lima)
  5. Materi : Huruf Kapital dan Kalimat Perintah
  6. Pertemuan ke : 17

CAPAIAN PEMBELAJARAN

Menulis

Peserta didik mampu menulis berbagai tipe teks sederhana berdasarkan gagasan, hasil pengamatan, pengalaman, dan/atau imajinasi dengan rangkaian kalimat kompleks secara kreatif, menarik, dan/atau indah.

TUJUAN PEMBELAJARAN

Peserta didik mampu:

  1. memahami pengertian dan fungsi huruf kapital;
  2. mengidentifikasi penggunaan huruf kapital dalam kalimat;
  3. memahami aturan penggunaan huruf kapital pada awal kalimat;
  4. memahami penggunaan huruf kapital pada nama orang, nama tempat, nama hari, nama bulan, dan nama khusus;
  5. memperbaiki kesalahan penggunaan huruf kapital dalam kalimat;
  6. memahami pengertian dan ciri-ciri kalimat perintah;
  7. mengidentifikasi kalimat perintah dalam sebuah teks;
  8. membuat kalimat perintah dengan menggunakan bahasa yang santun;
  9. menggunakan huruf kapital dan tanda baca yang tepat dalam menulis kalimat;
  10. menulis teks sederhana dengan memperhatikan penggunaan huruf kapital dan kalimat perintah.

TP Mindful, Meaningful dan Joyful

1. Mindful Learning (Berkesadaran)

  1. Peserta didik mampu menyadari pentingnya penggunaan huruf kapital dalam tulisan.
  2. Peserta didik mampu memperhatikan penggunaan huruf kapital pada setiap kalimat yang ditulis.
  3. Peserta didik mampu mengenali kalimat perintah dalam kehidupan sehari-hari.
  4. Peserta didik mampu menggunakan kalimat perintah dengan bahasa yang santun.

2. Meaningful Learning (Bermakna)

  1. Peserta didik mampu menghubungkan penggunaan huruf kapital dengan kegiatan menulis sehari-hari.
  2. Peserta didik mampu menemukan contoh kalimat perintah di lingkungan rumah dan sekolah.
  3. Peserta didik mampu menggunakan kalimat perintah untuk menyampaikan pesan atau instruksi kepada orang lain.
  4. Peserta didik memahami bahwa penggunaan huruf kapital dan kalimat perintah yang tepat membuat tulisan lebih mudah dipahami.

3. Joyful Learning (Menggembirakan)

  1. Peserta didik menemukan contoh penggunaan huruf kapital melalui permainan atau kegiatan sederhana.
  2. Peserta didik membuat contoh kalimat perintah yang menarik dan santun.
  3. Peserta didik memperbaiki kalimat yang salah secara berkelompok.
  4. Peserta didik membuat teks sederhana dengan menggunakan huruf kapital dan kalimat perintah.

ATP (Alur Tujuan Pembelajaran)

Murid dapat menulis berbagai tipe teks sederhana berdasarkan gagasan, hasil pengamatan, pengalaman, dan/atau imajinasi dengan rangkaian kalimat kompleks secara kreatif, menarik, dan/atau indah.

MATERI

Assalamu'alaikum Wr.Wb.

Alhamdulillah, sebelum kita masuk ke pembelajaran Bahasa Indonesia, mari kita bersyukur kepada Allah SWT karena telah diberikan kesempatan untuk belajar dan menambah ilmu pengetahuan.

Apersepsi

Guru mengajukan pertanyaan kepada peserta didik:

“Anak-anak, pernahkah kalian melihat tulisan yang menggunakan huruf besar?”

“Mengapa nama seseorang biasanya ditulis menggunakan huruf kapital?”

“Pernahkah kalian mendengar seseorang memberikan perintah?”

“Apa contoh perintah yang sering kalian dengar di sekolah?”

Guru kemudian mengaitkan jawaban peserta didik dengan pembelajaran:

“Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menggunakan tulisan dan kalimat untuk menyampaikan informasi atau perintah. Agar tulisan mudah dipahami, kita perlu menggunakan huruf kapital dengan tepat. Kita juga perlu menggunakan kalimat perintah dengan bahasa yang santun. Hari ini kita akan belajar tentang huruf kapital dan kalimat perintah.”

MATERI: HURUF KAPITAL DAN KALIMAT PERINTAH

A. Pengertian Huruf Kapital

Huruf kapital adalah huruf yang berukuran lebih besar daripada huruf biasa dan digunakan pada bagian-bagian tertentu dalam tulisan sesuai dengan aturan bahasa Indonesia.

Contoh:

  • Yuyun sedang membaca buku.
  • Bandar Lampung adalah ibu kota Provinsi Lampung.
  • Senin adalah hari pertama dalam kegiatan sekolah.

B. Penggunaan Huruf Kapital

Huruf kapital digunakan pada beberapa bagian berikut.

1. Awal kalimat

Huruf pertama pada awal kalimat harus menggunakan huruf kapital.

Contoh:

  • Ayah sedang membaca koran.
  • Saya pergi ke sekolah.
  • Mereka bermain di halaman.

Salah:

  • saya pergi ke sekolah.

Benar:

  • Saya pergi ke sekolah.

2. Nama orang

Huruf kapital digunakan pada awal nama orang.

Contoh:

  • Yuyun sedang mengajar.
  • Rani membaca buku.
  • Budi bermain sepak bola.

3. Nama tempat

Huruf kapital digunakan pada nama tempat atau wilayah tertentu.

Contoh:

  • Lampung
  • Bandar Lampung
  • Jakarta
  • Indonesia

Contoh kalimat:

Rani tinggal di Bandar Lampung.

4. Nama hari dan bulan

Huruf kapital digunakan pada nama hari dan bulan.

Contoh:

  • Senin
  • Selasa
  • Januari
  • September

Contoh kalimat:

Kami belajar Bahasa Indonesia pada hari Selasa.

Bulan September memiliki tiga puluh hari.

5. Nama khusus

Huruf kapital digunakan pada nama khusus, seperti nama lembaga, sekolah, atau organisasi tertentu.

Contoh:

  • SD Negeri 1 Terbanggi Besar
  • Bahasa Indonesia
  • Provinsi Lampung

C. Kesalahan Penggunaan Huruf Kapital

Perhatikan contoh berikut!

❌ yuyun pergi ke bandar lampung pada hari senin.

Perbaikannya:

✅ Yuyun pergi ke Bandar Lampung pada hari Senin.

Perhatikan bahwa huruf kapital digunakan pada nama orang, nama tempat, dan nama hari.

D. Pengertian Kalimat Perintah

Kalimat perintah adalah kalimat yang digunakan untuk memberikan perintah, ajakan, larangan, atau instruksi kepada seseorang agar melakukan sesuatu.

Contoh:

  • Tutup pintu itu!
  • Bukalah bukumu!
  • Rapikan meja kalian!
  • Tolong ambilkan buku itu!

Kalimat perintah biasanya diakhiri dengan tanda seru (!), terutama jika perintah disampaikan dengan tegas.

E. Ciri-Ciri Kalimat Perintah

Ciri-ciri kalimat perintah antara lain:

  1. berisi perintah atau instruksi;
  2. meminta seseorang melakukan sesuatu;
  3. dapat menggunakan kata tolong, silakan, atau mari;
  4. biasanya menggunakan tanda seru (!);
  5. sebaiknya disampaikan dengan bahasa yang santun.

Contoh:

Tolong tutup pintunya!

Silakan duduk dengan tertib!

Rapikan buku-bukumu!

F. Jenis-Jenis Kalimat Perintah

1. Perintah biasa

Digunakan untuk meminta seseorang melakukan sesuatu.

Contoh:

Buka bukumu!

Kerjakan tugasmu!

2. Perintah dengan kata “tolong”

Digunakan agar perintah terdengar lebih santun.

Contoh:

Tolong ambilkan pensil saya!

Tolong rapikan meja ini!

3. Kalimat larangan

Digunakan untuk melarang seseorang melakukan sesuatu.

Contoh:

Jangan membuang sampah sembarangan!

Jangan berlari di dalam kelas!

4. Kalimat ajakan

Digunakan untuk mengajak seseorang melakukan sesuatu bersama-sama.

Contoh:

Mari kita menjaga kebersihan kelas!

Ayo belajar bersama!

G. Menggunakan Huruf Kapital dan Kalimat Perintah

Ketika membuat kalimat perintah, kita juga harus memperhatikan penggunaan huruf kapital.

Contoh:

❌ tolong rapikan meja kalian!

✅ Tolong rapikan meja kalian!

Contoh lainnya:

❌ jangan membuang sampah sembarangan!

✅ Jangan membuang sampah sembarangan!

Dengan demikian, kalimat ditulis dengan huruf kapital pada awal kalimat dan menggunakan tanda baca yang tepat.

H. Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari

Perhatikan kalimat berikut:

  1. Tolong buanglah sampah pada tempatnya!
  2. Rapikan tempat tidurmu!
  3. Jangan mencoret-coret dinding!
  4. Ayo kita membersihkan kelas!
  5. Silakan antre dengan tertib!

Kalimat-kalimat tersebut dapat kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari dengan tetap memperhatikan kesantunan dalam berbicara.

I. Langkah-Langkah Menulis Kalimat Perintah

  1. Tentukan kegiatan yang ingin diperintahkan.
  2. Pilih kata yang sesuai.
  3. Gunakan bahasa yang santun.
  4. Awali kalimat dengan huruf kapital.
  5. Gunakan tanda baca yang tepat.
  6. Bacalah kembali kalimat yang telah dibuat.
  7. Pastikan kalimat mudah dipahami.

Latihan Soal

A. Jawablah pertanyaan berikut!

  1. Apa yang dimaksud dengan huruf kapital?
  2. Kapan huruf kapital digunakan pada awal kalimat?
  3. Sebutkan tiga contoh penggunaan huruf kapital!
  4. Apa yang dimaksud dengan kalimat perintah?
  5. Sebutkan tiga ciri kalimat perintah!
  6. Buatlah satu contoh kalimat perintah!
  7. Buatlah satu contoh kalimat larangan!
  8. Buatlah satu contoh kalimat ajakan!
  9. Mengapa kita harus menggunakan huruf kapital dengan tepat?
  10. Mengapa kalimat perintah sebaiknya disampaikan dengan bahasa yang santun?

B. Perbaikilah Penggunaan Huruf Kapital!

Perbaiki kalimat berikut agar penggunaan huruf kapitalnya tepat!

  1. yuyun pergi ke sekolah pada hari senin.
  2. rani tinggal di bandar lampung.
  3. pada bulan september kami mengikuti kegiatan sekolah.
  4. budi dan andi sedang membaca buku.
  5. indonesia memiliki banyak budaya.

C. Tentukan Kalimat Perintah!

Berilah tanda ✓ pada kalimat yang merupakan kalimat perintah!

  1. (___) Tolong tutup pintunya!
  2. (___) Rani sedang membaca buku.
  3. (___) Jangan berlari di dalam kelas!
  4. (___) Silakan duduk dengan tertib!
  5. (___) Budi bermain sepak bola.

D. Buatlah Kalimat Perintah!

Buatlah kalimat perintah berdasarkan kegiatan berikut:

  1. Membersihkan kelas: ______________________________
  2. Merapikan buku: _________________________________
  3. Membuang sampah: _______________________________
  4. Membuka buku pelajaran: _________________________
  5. Menjaga kebersihan: _____________________________

E. Tugas Individu

Buatlah sebuah teks sederhana bertema:

“Menjaga Kebersihan Sekolah”

Dalam teks tersebut, tuliskan minimal 5 kalimat yang memuat:

  1. penggunaan huruf kapital yang tepat;
  2. minimal 3 kalimat perintah;
  3. penggunaan tanda baca yang tepat;
  4. bahasa yang santun dan mudah dipahami.

Kerjakan di buku tulis.

Refleksi Pembelajaran

  • Untuk Siswa: Alhamdulillah, hari ini ananda mengikuti pembelajaran Bahasa Indonesia tentang Huruf Kapital dan Kalimat Perintah dengan baik. Semua siswa mengikuti kegiatan pembelajaran dengan tertib dan aktif. Siswa dapat memahami penggunaan huruf kapital pada awal kalimat, nama orang, nama tempat, nama hari, dan nama bulan. Siswa juga dapat memahami pengertian, ciri-ciri, serta contoh kalimat perintah. Seluruh siswa dapat membuat kalimat perintah dengan menggunakan bahasa yang santun dan memahami materi yang telah dipelajari.
  • Untuk Guru: Pembelajaran Bahasa Indonesia tentang Huruf Kapital dan Kalimat Perintah berjalan dengan baik dan lancar. Semua siswa dapat mengikuti pembelajaran dengan tertib serta memahami materi yang disampaikan. Siswa mampu mengidentifikasi penggunaan huruf kapital dan membedakan kalimat perintah dari kalimat lainnya. Siswa juga mampu membuat kalimat perintah dengan tepat dan santun sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.

Kesimpulan Materi: Huruf Kapital dan Kalimat Perintah

  • Huruf Kapital: Huruf yang digunakan pada bagian tertentu dalam tulisan sesuai dengan aturan bahasa Indonesia.
  • Penggunaan Huruf Kapital: Digunakan antara lain pada awal kalimat, nama orang, nama tempat, nama hari, nama bulan, dan nama khusus.
  • Kalimat Perintah: Kalimat yang digunakan untuk memberikan perintah, instruksi, larangan, atau ajakan kepada seseorang.
  • Ciri Kalimat Perintah: Berisi perintah atau instruksi dan biasanya menggunakan tanda seru (!).
  • Bahasa Santun: Kalimat perintah sebaiknya disampaikan dengan bahasa yang sopan, misalnya menggunakan kata tolong dan silakan.
  • Pemahaman Siswa: Seluruh siswa dapat memahami materi Huruf Kapital dan Kalimat Perintah.

Penutup

Guru bersama peserta didik menyimpulkan pembelajaran hari ini.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.