Kamis, 03 September 2026

Materi Ajar seni rupa Kamis, 3 September 2026

 

IDENTITAS

Nama Guru: Yuyun Eka Purwanti, S.Pd
Mapel: Seni Rupa
Hari/Tanggal: Kamis, 3 September 2026
Fase/Kelas: Fase C / Kelas V (Lima)
Materi: Makrame
Pertemuan ke: 13

CAPAIAN PEMBELAJARAN

Mengalami, Menciptakan, dan Merefleksikan:
Peserta didik mampu mengamati, mengenal, mengeksplorasi, dan menciptakan karya seni rupa dengan memanfaatkan berbagai bahan dan teknik. Peserta didik mampu mengembangkan kreativitas, keterampilan, ketekunan, serta menunjukkan sikap menghargai karya seni dan proses berkarya.

TUJUAN PEMBELAJARAN

Peserta didik mampu:

  1. memahami pengertian dan fungsi makrame;
  2. mengenal alat dan bahan yang digunakan untuk membuat makrame;
  3. mengidentifikasi berbagai jenis simpul dasar dalam makrame;
  4. memahami langkah-langkah pembuatan karya makrame sederhana;
  5. mempraktikkan teknik simpul dasar makrame dengan tepat;
  6. membuat karya makrame sederhana dengan kreatif dan rapi;
  7. memilih kombinasi warna dan bentuk yang sesuai dalam karya makrame;
  8. menunjukkan sikap teliti, sabar, mandiri, dan bertanggung jawab selama proses berkarya;
  9. mempresentasikan dan menceritakan proses pembuatan karya makrame;
  10. merefleksikan pengalaman dan hasil karya makrame yang telah dibuat.

TP MINDFUL, MEANINGFUL, DAN JOYFUL

1. Mindful Learning (Berkesadaran)

Peserta didik mampu mengamati contoh karya makrame dengan penuh perhatian untuk mengenali bentuk, pola, warna, bahan, dan teknik simpul yang digunakan.

Peserta didik menyadari bahwa membuat makrame membutuhkan ketelitian, kesabaran, konsentrasi, dan koordinasi antara mata dan tangan.

Peserta didik mampu mengikuti setiap langkah pembuatan simpul secara perlahan dan teliti serta memeriksa kembali kerapian hasil karyanya.

Peserta didik menyadari bahwa setiap kesalahan dalam membuat simpul merupakan bagian dari proses belajar dan dapat diperbaiki dengan sabar.

2. Meaningful Learning (Bermakna)

Peserta didik mampu menghubungkan karya makrame dengan benda-benda yang dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti hiasan dinding, gantungan kunci, gelang, tempat tanaman, atau dekorasi ruangan.

Peserta didik memahami bahwa bahan sederhana seperti tali dapat diolah menjadi karya seni yang memiliki nilai keindahan dan fungsi.

Peserta didik mampu memanfaatkan kreativitas untuk membuat karya yang dapat digunakan atau dijadikan sebagai hiasan.

Peserta didik menyadari pentingnya menggunakan bahan secara bijak dan tidak membuang bahan yang masih dapat dimanfaatkan.

3. Joyful Learning (Menggembirakan)

Peserta didik mampu mempelajari makrame melalui kegiatan yang menyenangkan seperti mengamati contoh karya, menonton video tutorial, mencoba berbagai simpul, permainan tebak simpul, bekerja secara berpasangan atau berkelompok, serta membuat karya makrame sederhana.

Peserta didik menunjukkan antusiasme, rasa ingin tahu, kreativitas, keberanian mencoba, dan rasa percaya diri selama proses berkarya.

Peserta didik menikmati proses membuat karya makrame dan menghargai hasil karya diri sendiri maupun teman.

ATP (ALUR TUJUAN PEMBELAJARAN)

Peserta didik mengenal pengertian, fungsi, dan karakteristik karya makrame.

Peserta didik mengidentifikasi alat dan bahan yang digunakan untuk membuat makrame.

Peserta didik mengamati berbagai contoh karya makrame dan menemukan unsur rupa yang terdapat di dalamnya.

Peserta didik mengenal dan membedakan beberapa simpul dasar yang digunakan dalam pembuatan makrame.

Peserta didik mempraktikkan teknik membuat simpul dasar makrame dengan memperhatikan urutan langkah dan kerapian.

Peserta didik mengeksplorasi kombinasi simpul, warna, dan bentuk untuk menghasilkan karya makrame sederhana.

Peserta didik menciptakan karya makrame sederhana secara mandiri atau berkelompok dengan memperhatikan unsur keindahan dan fungsi.

Peserta didik mempresentasikan karya makrame dan menjelaskan proses pembuatannya.

Peserta didik merefleksikan proses berkarya, kesulitan yang dihadapi, serta hal yang dipelajari dari kegiatan membuat makrame.

MATERI

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

الـحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَـمِيْنَ ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الأَنْبِيَاءِ وَالـمُرْسَلِيْنَ ، نَبِيِّنَا وَحَبِيْبِنَا مُـحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْـمَعِيْنَ ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ ، أَمَّا بَعْدُ

Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin, wassholaatu wassalaamu ‘alaa asyroofil anbiyaa-i wal mursaliin, nabiyyinaa wahabiibinaa muhammadin, wa’ala alihi washahbihi aj’ma’iin, wa man tabi’ahum biihsaanin ilaa yaumiddiin, amma ba’du.

Sebelum kita masuk ke pembelajaran Seni Rupa, mari kita renungkan kebesaran Allah SWT.

Al-Khaliq (Maha Menciptakan)

Allah SWT adalah Al-Khaliq, yaitu Zat Yang Maha Menciptakan. Allah menciptakan berbagai macam benda, tumbuhan, hewan, dan manusia dengan bentuk serta keindahan yang berbeda-beda.

Allah juga memberikan manusia akal, tangan, dan kreativitas agar manusia dapat mengolah berbagai bahan menjadi sesuatu yang bermanfaat dan indah.

Melalui kegiatan membuat makrame, kita belajar menggunakan tangan dan kreativitas sebagai bentuk rasa syukur atas kemampuan yang Allah SWT berikan.

Al-Musawwir (Maha Membentuk)

Allah SWT adalah Al-Musawwir, Zat Yang Maha Membentuk. Segala sesuatu yang diciptakan Allah memiliki bentuk dan keindahan.

Ketika membuat karya makrame, kita juga belajar mengatur bentuk, pola, dan susunan tali sehingga menghasilkan karya yang indah.

Oleh karena itu, kita harus menggunakan kemampuan berkarya dengan baik dan tidak lupa bersyukur kepada Allah SWT.


APERSEPSI

Guru menunjukkan atau menampilkan beberapa contoh karya makrame.

Guru mengajak peserta didik mengamati karya tersebut.

Guru bertanya:

"Anak-anak, pernahkah kalian melihat benda seperti ini?"

"Menurut kalian, benda tersebut dibuat dari bahan apa?"

"Bagaimana cara tali-tali tersebut dapat membentuk pola yang indah?"

"Apakah tali yang sederhana dapat dibuat menjadi sebuah karya seni?"

Guru kemudian mengajak peserta didik memperhatikan pola pada karya makrame.

Guru menjelaskan:

"Hari ini kita akan belajar tentang makrame. Makrame merupakan salah satu karya seni yang dibuat dengan teknik mengikat atau menyimpulkan tali sehingga menghasilkan pola dan bentuk yang indah."

Guru menyampaikan bahwa dalam membuat makrame diperlukan kesabaran, ketelitian, kreativitas, dan keterampilan tangan.


MATERI: MAKRAME

A. Pengertian Makrame

Makrame adalah karya seni yang dibuat dengan menggunakan teknik mengikat dan menyimpulkan tali sehingga menghasilkan bentuk, pola, atau hiasan tertentu.

Makrame dapat dibuat menjadi berbagai macam benda, baik sebagai hiasan maupun benda yang memiliki fungsi dalam kehidupan sehari-hari.

Contohnya adalah:

  • hiasan dinding;
  • gantungan kunci;
  • gelang;
  • gantungan pot;
  • hiasan meja;
  • gantungan dekorasi;
  • tempat penyimpanan sederhana.

Makrame menarik karena dari bahan yang sederhana, yaitu tali, kita dapat menghasilkan karya yang memiliki nilai keindahan dan fungsi.


B. Alat dan Bahan Makrame

Untuk membuat makrame sederhana, kita dapat menggunakan beberapa alat dan bahan.

1. Tali

Tali merupakan bahan utama untuk membuat makrame.

Jenis tali yang dapat digunakan antara lain tali katun, tali kur, tali rami, atau jenis tali lain yang sesuai.

2. Gunting

Gunting digunakan untuk memotong tali sesuai dengan ukuran yang dibutuhkan.

Saat menggunakan gunting, kita harus berhati-hati dan menggunakannya sesuai fungsinya.

3. Kayu atau Ring

Kayu, stik, atau ring dapat digunakan sebagai tempat mengikat tali pada beberapa jenis karya makrame.

4. Manik-manik

Manik-manik dapat digunakan sebagai tambahan dekorasi agar karya terlihat lebih menarik.

5. Bahan Pendukung Lain

Kita juga dapat menggunakan bahan lain sesuai dengan rancangan karya, misalnya pita, batang kayu kecil, atau benda lain yang aman digunakan.


C. Teknik Dasar Makrame

Makrame dibuat dengan berbagai macam teknik simpul.

Beberapa simpul dasar yang dapat dipelajari adalah:

1. Simpul Kepala

Simpul kepala dapat digunakan untuk mengikat tali pada kayu, ring, atau media lainnya sebagai bagian awal pembuatan makrame.

2. Simpul Mati

Simpul mati merupakan salah satu bentuk simpul sederhana yang digunakan untuk mengikat tali agar tidak mudah terlepas.

3. Simpul Persegi

Simpul persegi dapat menghasilkan pola yang menarik dan sering digunakan dalam berbagai karya makrame.

4. Simpul Spiral

Simpul spiral dapat menghasilkan pola seperti lilitan atau bentuk berputar.

Setiap jenis simpul memiliki cara pembuatan dan bentuk yang berbeda.

Karena itu, kita harus memperhatikan urutan langkah ketika mempraktikkannya.


D. Langkah-Langkah Membuat Makrame Sederhana

Untuk membuat makrame sederhana, langkah-langkahnya dapat dilakukan sebagai berikut:

Langkah 1: Menyiapkan Alat dan Bahan

Siapkan tali, gunting, kayu atau ring, serta bahan tambahan jika diperlukan.

Langkah 2: Menentukan Ukuran Tali

Potong tali sesuai dengan ukuran yang diperlukan.

Usahakan ukuran tali dibuat dengan tepat agar karya terlihat rapi.

Langkah 3: Memasang Tali

Pasangkan tali pada kayu atau ring menggunakan simpul awal.

Langkah 4: Membuat Simpul

Mulailah membuat simpul sesuai pola yang telah direncanakan.

Lakukan secara perlahan dan perhatikan setiap bagian tali.

Langkah 5: Mengatur Pola

Susun simpul secara berulang hingga membentuk pola yang diinginkan.

Langkah 6: Merapikan Karya

Periksa kembali simpul dan panjang tali.

Rapikan bagian yang belum sesuai.

Langkah 7: Finishing

Potong bagian tali yang terlalu panjang jika diperlukan dan tambahkan hiasan sesuai kreativitas.


E. Unsur Seni Rupa dalam Makrame

Dalam membuat karya makrame, kita dapat memperhatikan beberapa unsur seni rupa.

1. Garis

Tali yang digunakan dalam makrame membentuk berbagai garis, baik garis lurus, diagonal, maupun lengkung.

2. Bentuk

Susunan tali dan simpul dapat menghasilkan berbagai bentuk.

3. Warna

Penggunaan warna tali dapat membuat karya terlihat lebih menarik.

4. Tekstur

Makrame memiliki tekstur yang dapat dirasakan karena menggunakan tali yang disimpulkan dan disusun.

5. Pola

Pengulangan simpul dapat menghasilkan pola tertentu sehingga karya terlihat lebih teratur dan indah.


F. Prinsip Keindahan dalam Membuat Makrame

Agar karya makrame terlihat menarik, kita dapat memperhatikan:

Kerapian
Simpul dibuat dengan rapi dan tidak berantakan.

Keseimbangan
Susunan tali dan simpul dibuat seimbang.

Pengulangan
Simpul dapat diulang sehingga menghasilkan pola yang teratur.

Kesatuan
Warna, bentuk, dan pola disusun agar menjadi satu karya yang harmonis.

Kreativitas
Peserta didik dapat mengembangkan pola sesuai dengan ide dan imajinasinya.


G. Makrame dalam Kehidupan Sehari-hari

Makrame tidak hanya dibuat sebagai karya seni, tetapi juga dapat memiliki fungsi.

Contohnya:

  • sebagai hiasan kamar;
  • sebagai hiasan kelas;
  • sebagai gantungan pot;
  • sebagai gantungan kunci;
  • sebagai dekorasi rumah;
  • sebagai hadiah untuk orang lain.

Hal ini menunjukkan bahwa seni dapat hadir dan memberikan manfaat dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan kreativitas, bahan sederhana dapat diubah menjadi sesuatu yang indah dan bermanfaat.


H. Mari Berkreasi!

Sekarang saatnya kita membuat karya makrame sederhana.

Sebelum mulai berkarya, perhatikan beberapa hal berikut:

  1. Siapkan alat dan bahan dengan lengkap.
  2. Gunakan gunting dengan hati-hati.
  3. Perhatikan contoh simpul yang diberikan.
  4. Buat simpul secara perlahan.
  5. Jangan mudah menyerah ketika simpul belum berhasil.
  6. Rapikan tali dan pola karya.
  7. Gunakan kreativitas untuk memilih warna dan bentuk.
  8. Hargai karya teman.

Ingat!

Karya yang baik bukan hanya karya yang indah, tetapi juga karya yang dibuat dengan sabar, teliti, kreatif, dan penuh tanggung jawab.


SIMAK VIDEO BERIKUT!



Setelah menyimak video, peserta didik diajak menemukan:

  • alat dan bahan yang digunakan;
  • jenis simpul yang dibuat;
  • urutan langkah pembuatan;
  • pola yang dihasilkan;
  • cara merapikan karya.

Materi Ajar Bahasa Indonesia Kamis, 3 September 2026

 

IDENTITAS

  1. Nama Guru: Yuyun Eka Purwanti, S.Pd
  2. Mapel: Bahasa Indonesia
  3. Hari/Tanggal: Kamis, 3 September 2026
  4. Fase/Kelas: Fase C / Kelas V (Lima)
  5. Materi: Kalimat Langsung dan Kalimat Tidak Langsung
  6. Pertemuan ke: 13

Capaian Pembelajaran

Membaca dan Memirsa: Peserta didik mampu membaca kata-kata dengan berbagai pola kombinasi huruf dengan fasih dari bacaan dan/atau tayangan yang dipirsa; serta menganalisis informasi serta nilai-nilai dalam teks sastra dan nonsastra berwujud teks visual dan/atau audiovisual.

Tujuan Pembelajaran

Peserta didik mampu:

  1. memahami pengertian kalimat langsung dan kalimat tidak langsung;
  2. mengidentifikasi ciri-ciri kalimat langsung dan kalimat tidak langsung;
  3. membedakan kalimat langsung dan kalimat tidak langsung dalam sebuah teks;
  4. menganalisis penggunaan tanda baca pada kalimat langsung;
  5. mengubah kalimat langsung menjadi kalimat tidak langsung dan sebaliknya;
  6. menganalisis informasi yang terdapat dalam kalimat langsung dan tidak langsung;
  7. menyampaikan kembali informasi dari kalimat langsung dan tidak langsung dengan tepat.

TP Mindful, Meaningful dan Joyful

1. Mindful Learning (Berkesadaran)

Peserta didik mampu membaca dan mencermati kalimat dalam teks dengan penuh perhatian untuk menemukan perbedaan antara kalimat langsung dan kalimat tidak langsung.

Peserta didik menyadari pentingnya ketelitian dalam memperhatikan penggunaan tanda petik, tanda baca, kata pengiring, perubahan kata ganti, serta susunan kalimat ketika mengubah kalimat langsung menjadi kalimat tidak langsung.

Peserta didik mampu memeriksa kembali hasil pekerjaannya agar informasi yang disampaikan tetap sesuai dengan makna kalimat asal.

2. Meaningful Learning (Bermakna)

Peserta didik mampu menghubungkan penggunaan kalimat langsung dan tidak langsung dengan pengalaman sehari-hari.

Peserta didik memahami bahwa kalimat langsung sering digunakan ketika menyampaikan perkataan seseorang secara apa adanya, sedangkan kalimat tidak langsung digunakan ketika menceritakan kembali perkataan atau informasi yang disampaikan oleh orang lain.

Peserta didik mampu menggunakan kedua jenis kalimat tersebut untuk menyampaikan informasi secara tepat dalam kehidupan sehari-hari.

3. Joyful Learning (Menggembirakan)

Peserta didik mampu memahami kalimat langsung dan tidak langsung melalui kegiatan yang menyenangkan seperti membaca dialog, bermain peran, mengamati gambar atau video, permainan mengubah kalimat, diskusi kelompok, dan kuis bahasa.

Peserta didik menunjukkan rasa percaya diri, aktif berdiskusi, bekerja sama, berani menyampaikan pendapat, dan menikmati kegiatan pembelajaran Bahasa Indonesia.

ATP (Alur Tujuan Pembelajaran)

  1. Peserta didik memahami pengertian dan ciri-ciri kalimat langsung dan kalimat tidak langsung.
  2. Peserta didik mengidentifikasi kalimat langsung dan kalimat tidak langsung dalam teks visual dan/atau audiovisual.
  3. Peserta didik menganalisis penggunaan tanda baca dan kata pengiring dalam kalimat langsung.
  4. Peserta didik membedakan karakteristik kalimat langsung dan kalimat tidak langsung.
  5. Peserta didik mengubah kalimat langsung menjadi kalimat tidak langsung dengan tetap mempertahankan informasi yang disampaikan.
  6. Peserta didik mengubah kalimat tidak langsung menjadi kalimat langsung dengan penggunaan tanda baca yang tepat.
  7. Peserta didik menganalisis informasi dalam teks yang menggunakan kalimat langsung dan tidak langsung serta menyampaikan kembali informasi tersebut secara tepat.

MATERI

Assalamu'alaikum Wr.Wb.

 الـحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَـمِيْنَ ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الأَنْبِيَاءِ وَالـمُرْسَلِيْنَ ، نَبِيِّنَا وَحَبِيْبِنَا مُـحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْـمَعِيْنَ ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ ، أَمَّا بَعْدُ

Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin, wassholaatu wassalaamu ‘alaa asyroofil anbiyaa-i wal mursaliin, nabiyyinaa wahabiibinaa muhammadin, wa’ala alihi washahbihi aj’ma’iin,wa mantabi’ahum biihsanin ilaa yaumiddin, Amma ba’du.

Sebelum kita masuk ke pembelajaran IPAS mari kita renungkan kebesaran Allah SWT

  • Al-Khaliq (Maha Menciptakan): Allah SWT adalah zat yang menciptakan alam semesta beserta isinya, termasuk sumber daya alam yang melimpah dan potensi akal manusia.
  • Al-Malik (Maha Memelihara/Merajai): Allah SWT adalah penguasa mutlak yang mengatur, menjaga, dan memelihara keseimbangan alam agar tetap harmonis dan tidak rusak.
  • Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki): Allah SWT yang menjamin dan melimpahkan rezeki bagi seluruh makhluk-Nya melalui kekayaan alam dan kemampuan kerja manusia.

APERSEPSI

Guru mengajak peserta didik mengamati percakapan sederhana.

Ibu berkata, "Anak-anak, jangan lupa membaca buku hari ini."

Guru bertanya:

"Siapa yang berbicara dalam kalimat tersebut?"

"Apa sebenarnya yang dikatakan oleh Ibu?"

"Bagaimana jika perkataan Ibu tersebut kita ceritakan kembali kepada teman?"

Misalnya:

Ibu berkata bahwa anak-anak tidak boleh lupa membaca buku hari itu.

Guru kemudian mengaitkan jawaban peserta didik dengan pembelajaran:

"Kalimat pertama merupakan kalimat langsung karena perkataan seseorang disampaikan secara langsung seperti yang diucapkan."

"Kalimat kedua merupakan kalimat tidak langsung karena perkataan seseorang disampaikan kembali menggunakan bahasa kita tanpa mengubah informasi utamanya."


MATERI: KALIMAT LANGSUNG DAN KALIMAT TIDAK LANGSUNG

A. Pengertian Kalimat Langsung

Kalimat langsung adalah kalimat yang mengutip atau menyampaikan perkataan seseorang secara langsung atau apa adanya.

Kalimat langsung biasanya ditandai dengan penggunaan tanda petik ("...").

Contoh:

Ayah berkata, "Besok kita akan pergi ke rumah nenek."

Perkataan Ayah disampaikan secara langsung sehingga menggunakan tanda petik.

Ciri-ciri Kalimat Langsung

  1. Menggunakan tanda petik ("...").
  2. Isi perkataan ditulis seperti yang disampaikan oleh pembicara.
  3. Huruf pertama pada petikan langsung ditulis menggunakan huruf kapital.
  4. Biasanya terdapat kata pengiring, seperti:
    • berkata
    • bertanya
    • menjawab
    • ujar
    • mengatakan
    • menjelaskan

Contoh:

Rani berkata, "Saya sudah menyelesaikan tugas."

Ibu bertanya, "Apakah kamu sudah makan?"

"Jangan membuang sampah sembarangan!" ujar guru.


B. Tanda Baca dalam Kalimat Langsung

Penggunaan tanda baca sangat penting dalam kalimat langsung.

Perhatikan contoh berikut:

1. Pengiring di awal

Ibu berkata, "Belajarlah dengan rajin."

Setelah kata berkata digunakan tanda koma sebelum tanda petik.

2. Pengiring di akhir

"Saya akan belajar," kata Rina.

Tanda koma diletakkan sebelum tanda petik penutup karena masih diikuti kata pengiring.

3. Kalimat tanya

"Kapan kita pergi?" tanya Ayah.

Karena merupakan kalimat tanya, digunakan tanda tanya.

4. Kalimat perintah

"Tolong rapikan buku-buku itu!" kata Ibu.

Karena merupakan kalimat perintah, digunakan tanda seru.

SImak Video berikut!

C. Pengertian Kalimat Tidak Langsung

Kalimat tidak langsung adalah kalimat yang digunakan untuk menyampaikan kembali perkataan seseorang dengan bahasa penutur, tanpa mengutip perkataan tersebut secara langsung.

Kalimat tidak langsung tidak menggunakan tanda petik.

Contoh:

Kalimat langsung:

Ayah berkata, "Saya akan pergi ke pasar."

Kalimat tidak langsung:

Ayah berkata bahwa ia akan pergi ke pasar.

Perkataan Ayah tidak lagi ditulis persis seperti ucapan aslinya.


D. Ciri-ciri Kalimat Tidak Langsung

Kalimat tidak langsung memiliki beberapa ciri, yaitu:

  1. Tidak menggunakan tanda petik.
  2. Perkataan seseorang disampaikan kembali dengan bahasa penutur.
  3. Biasanya menggunakan kata penghubung seperti bahwa.
  4. Kata ganti orang dapat mengalami perubahan.
  5. Inti atau informasi dari perkataan tetap dipertahankan.

Contoh perubahan kata ganti:

Kalimat langsung:

Budi berkata, "Saya akan belajar."

Kalimat tidak langsung:

Budi berkata bahwa ia akan belajar.

Kata saya berubah menjadi ia karena perkataan tersebut diceritakan kembali oleh orang lain.

E. Perbedaan Kalimat Langsung dan Tidak Langsung

Kalimat LangsungKalimat Tidak Langsung
Mengutip perkataan secara langsungMenyampaikan kembali perkataan
Menggunakan tanda petikTidak menggunakan tanda petik
Menggunakan kata-kata pembicaraMenggunakan bahasa penutur
Dapat menggunakan kata "saya", "aku", "kami"Kata ganti dapat berubah
Contoh: "Saya akan datang," kata Rina.Rina berkata bahwa ia akan datang.

G. Mengubah Kalimat Tidak Langsung Menjadi Kalimat Langsung

Kalimat tidak langsung juga dapat diubah menjadi kalimat

H. Menganalisis Informasi dalam Kalimat Langsung dan Tidak Langsung

Selain mengetahui bentuk kalimat, kita juga harus mampu menemukan informasi penting di dalamnya.

Perhatikan kalimat berikut:

"Besok kita akan membersihkan halaman sekolah," kata Pak Guru.

Informasi yang terdapat dalam kalimat tersebut adalah:

  • Siapa yang berbicara? → Pak Guru.
  • Apa yang akan dilakukan? → Membersihkan halaman sekolah.
  • Kapan dilakukan? → Besok.
  • Di mana kegiatannya? → Di halaman sekolah.

Jika diubah menjadi kalimat tidak langsung:

Pak Guru mengatakan bahwa mereka akan membersihkan halaman sekolah pada hari berikutnya.

Informasi pentingnya tetap sama.


I. Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari

Perhatikan percakapan berikut:

Dina: "Besok kita membawa buku cerita, ya."

Salsa: "Baik. Aku akan membawa buku cerita kesukaanku."

Jika Salsa menceritakan kembali perkataan Dina kepada temannya:

Salsa mengatakan bahwa Dina mengingatkan mereka untuk membawa buku cerita pada hari berikutnya.

Dengan demikian, kita dapat memahami bahwa kalimat langsung dan tidak langsung digunakan untuk menyampaikan informasi dari satu orang kepada orang lain.


Kesimpulan/ Refleksi pembelajaran 



Penutup
Demikian pembelajaran hari ini, semoga bermanfaat. dan kita akan lanjutkan pada pertemua selanjutnya.

Materi Ajar kokulikuler Kamis, 3 September 2026

 



IDENTITAS

  1. Nama Guru : Yuyun Eka Purwanti, S.Pd

  2. Mapel : Kokulikuler

  3. Hari/Tanggal : Kamis, 3 September 2026

  4. Fase/Kelas : Fase C / Kelas V (Lima)

  5. Materi : Tarian Khas La,pung

  6. Pertemuan ke : 6

Capaian Pembelajaran
:
  Peserta didik mengenali keberagaman budaya Indonesia melalui tarian tradisional Lampung sebagai bagian dari identitas daerah. Peserta didik mampu mengidentifikasi nama, asal, makna, fungsi, kostum, properti, serta gerak dasar tari tradisional Lampung. Peserta didik menunjukkan sikap bangga, menghargai keberagaman budaya, bekerja sama, dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan mengenal serta mempraktikkan gerak dasar tari tradisional Lampung sebagai bentuk pelestarian budaya bangsa.

Tujuan Pembelajaran
:
Peserta didik mengenali keberagaman budaya Indonesia melalui tarian tradisional Lampung sebagai bagian dari identitas daerah, mampu mengidentifikasi nama, asal, makna, fungsi, kostum, properti, serta gerak dasar tari tradisional Lampung, serta menunjukkan sikap bangga dan menghargai keberagaman budaya.

TP Mindful, Meaningful, dan Joyful:

  • 1. Mindful Learning (Berkesadaran)
    Peserta didik mampu mengamati dan mengenali keberagaman tari tradisional Lampung dengan penuh perhatian melalui gambar, video, atau pertunjukan, kemudian mengidentifikasi nama, asal daerah, makna, fungsi, kostum, properti, dan gerak dasar tari serta menyadari bahwa setiap tari memiliki nilai dan identitas budaya yang perlu dihargai.

    2. Meaningful Learning (Bermakna)
    Peserta didik mampu menghubungkan unsur dan makna tari tradisional Lampung dengan kehidupan masyarakat, nilai-nilai budaya, dan identitas daerah, serta merefleksikan pentingnya menjaga dan melestarikan budaya daerah sebagai bagian dari keberagaman budaya Indonesia.

    3. Joyful Learning (Menggembirakan)
    Peserta didik mampu menirukan dan mengeksplorasi gerak dasar tari tradisional Lampung secara sederhana melalui kegiatan yang menyenangkan, kreatif, dan kolaboratif, serta menunjukkan rasa percaya diri, bangga, dan menghargai keberagaman budaya.

ATP (Alur Tujuan Pembelajaran):

  1. mengenali dan mengidentifikasi keberagaman tari tradisional Lampung berdasarkan nama dan asal daerahnya dengan penuh perhatian serta menunjukkan sikap menghargai keberagaman budaya.

  2. menghubungkan makna, fungsi, kostum, properti, dan gerak dasar tari tradisional Lampung dengan kehidupan serta identitas masyarakat Lampung.

  3. menirukan dan mengeksplorasi gerak dasar tari tradisional Lampung secara sederhana dengan percaya diri, kreatif, dan menghargai karakteristik gerak tari.

MATERI

Assalamu'alaikum Wr.Wb.

 الـحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَـمِيْنَ ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الأَنْبِيَاءِ وَالـمُرْسَلِيْنَ ، نَبِيِّنَا وَحَبِيْبِنَا مُـحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْـمَعِيْنَ ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ ، أَمَّا بَعْدُ

Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin, wassholaatu wassalaamu ‘alaa asyroofil anbiyaa-i wal mursaliin, nabiyyinaa wahabiibinaa muhammadin, wa’ala alihi washahbihi aj’ma’iin,wa mantabi’ahum biihsanin ilaa yaumiddin, Amma ba’du.

Sebelum kita masuk ke pembelajaran Kokulikuler mari kita renungkan kebesaran Allah SWT

  • Al-Khaliq (Maha Menciptakan): Allah SWT adalah zat yang menciptakan alam semesta beserta isinya, termasuk sumber daya alam yang melimpah dan potensi akal manusia.
  • Al-Malik (Maha Memelihara/Merajai): Allah SWT adalah penguasa mutlak yang mengatur, menjaga, dan memelihara keseimbangan alam agar tetap harmonis dan tidak rusak.
  • Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki): Allah SWT yang menjamin dan melimpahkan rezeki bagi seluruh makhluk-Nya melalui kekayaan alam dan kemampuan kerja manusia.
Apersepsi

"Anak-anak, Allah Swt. menciptakan manusia dengan berbagai suku, bangsa, bahasa, dan budaya. Perbedaan tersebut bukan untuk saling membeda-bedakan, tetapi agar kita saling mengenal, menghargai, dan hidup berdampingan."

"Indonesia adalah negara yang memiliki banyak sekali budaya. Salah satunya adalah budaya Lampung, daerah tempat kita tinggal. Lampung memiliki berbagai tarian tradisional yang memiliki gerakan, pakaian, musik, dan makna yang khas. Keberagaman tarian tersebut merupakan kekayaan budaya yang patut kita syukuri dan kita lestarikan."

Materi :
Eksplorasi tarian Lampung mencakup pelestarian ragam seni gerak tradisional dan kreasi baru yang kaya makna budaya, seperti Tari Sigeh Pengunten, Tari Bedana, dan Tari Melinting.

Jenis-Jenis Tarian Utama :
1. Tari Sigeh Pengunten: Gabungan adat Pepadun dan Saibatin untuk menyambut tamu agung.
2. Tari Bedana: Tarian pergaulan bernapas Islam yang melambangkan keterbukaan masyarakat.
3. Tari Cangget: Ritual pemuda-pemudi dalam acara adat, panen raya, atau pernikahan.Tari Melinting: Tarian klasik dari Lampung Timur yang dibawakan bangsawan kerajaan.
4. Tari Tuping: Drama tari topeng tradisional yang menggambarkan kepahlawanan dan rasa syukur.Unsur dan Ciri KhasGerakan: Lembut, dinamis, serta sarat gestur penghormatan dan keramahan.
5. Tari Cak Culay Na'bui Na'bui digunakan sebagai tari hiburan dan pergaulan masyarakat, yang menggambarkan suasana gembira, kebersamaan, dan interaksi sosial.

Busana: Didominasi warna cerah dengan mahkota khas seperti Siger dan atribut keemasan.Musik: Diiringi alat musik tradisional seperti gamolan pekhing, gundang, dan petting atau gitar tunggal. Salah satu tarian Lampung 



Kesimpulan/ Refleksi pembelajaran 



Penutup
Demikian pembelajaran hari ini, semoga bermanfaat. dan kita akan lanjutkan pada pertemua selanjutnya.