Capaian Pembelajaran :Peserta didik mengenali keberagaman budaya Indonesia melalui tarian tradisional Lampung sebagai bagian dari identitas daerah. Peserta didik mampu mengidentifikasi nama, asal, makna, fungsi, kostum, properti, serta gerak dasar tari tradisional Lampung. Peserta didik menunjukkan sikap bangga, menghargai keberagaman budaya, bekerja sama, dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan mengenal serta mempraktikkan gerak dasar tari tradisional Lampung sebagai bentuk pelestarian budaya bangsa.
Tujuan Pembelajaran :Peserta didik mengenali keberagaman budaya Indonesia melalui tarian tradisional Lampung sebagai bagian dari identitas daerah, mampu mengidentifikasi nama, asal, makna, fungsi, kostum, properti, serta gerak dasar tari tradisional Lampung, serta menunjukkan sikap bangga dan menghargai keberagaman budaya.
TP Mindful, Meaningful, dan Joyful:
1. Mindful Learning (Berkesadaran) Peserta didik mampu mengamati dan mengenali keberagaman tari tradisional Lampung dengan penuh perhatian melalui gambar, video, atau pertunjukan, kemudian mengidentifikasi nama, asal daerah, makna, fungsi, kostum, properti, dan gerak dasar tari serta menyadari bahwa setiap tari memiliki nilai dan identitas budaya yang perlu dihargai.
2. Meaningful Learning (Bermakna) Peserta didik mampu menghubungkan unsur dan makna tari tradisional Lampung dengan kehidupan masyarakat, nilai-nilai budaya, dan identitas daerah, serta merefleksikan pentingnya menjaga dan melestarikan budaya daerah sebagai bagian dari keberagaman budaya Indonesia.
3. Joyful Learning (Menggembirakan) Peserta didik mampu menirukan dan mengeksplorasi gerak dasar tari tradisional Lampung secara sederhana melalui kegiatan yang menyenangkan, kreatif, dan kolaboratif, serta menunjukkan rasa percaya diri, bangga, dan menghargai keberagaman budaya.
ATP (Alur Tujuan Pembelajaran):
mengenali dan mengidentifikasi keberagaman tari tradisional Lampung berdasarkan nama dan asal daerahnya dengan penuh perhatian serta menunjukkan sikap menghargai keberagaman budaya.
menghubungkan makna, fungsi, kostum, properti, dan gerak dasar tari tradisional Lampung dengan kehidupan serta identitas masyarakat Lampung.
menirukan dan mengeksplorasi gerak dasar tari tradisional Lampung secara sederhana dengan percaya diri, kreatif, dan menghargai karakteristik gerak tari.
Sebelum kita masuk ke pembelajaran Kokulikuler mari kita renungkan kebesaran Allah SWT
Al-Khaliq (Maha Menciptakan): Allah SWT adalah zat yang menciptakan alam semesta beserta isinya, termasuk sumber daya alam yang melimpah dan potensi akal manusia.
Al-Malik (Maha Memelihara/Merajai): Allah SWT adalah penguasa mutlak yang mengatur, menjaga, dan memelihara keseimbangan alam agar tetap harmonis dan tidak rusak.
Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki): Allah SWT yang menjamin dan melimpahkan rezeki bagi seluruh makhluk-Nya melalui kekayaan alam dan kemampuan kerja manusia.
Apersepsi
"Anak-anak, Allah Swt. menciptakan manusia dengan berbagai suku, bangsa, bahasa, dan budaya. Perbedaan tersebut bukan untuk saling membeda-bedakan, tetapi agar kita saling mengenal, menghargai, dan hidup berdampingan."
"Indonesia adalah negara yang memiliki banyak sekali budaya. Salah satunya adalah budaya Lampung, daerah tempat kita tinggal. Lampung memiliki berbagai tarian tradisional yang memiliki gerakan, pakaian, musik, dan makna yang khas. Keberagaman tarian tersebut merupakan kekayaan budaya yang patut kita syukuri dan kita lestarikan."
Materi :
Eksplorasi tarian Lampung mencakup pelestarian ragam seni gerak tradisional dan kreasi baru yang kaya makna budaya, seperti Tari Sigeh Pengunten, Tari Bedana, dan Tari Melinting.
Jenis-Jenis Tarian Utama :
1. Tari Sigeh Pengunten: Gabungan adat Pepadun dan Saibatin untuk menyambut tamu agung.
2. Tari Bedana: Tarian pergaulan bernapas Islam yang melambangkan keterbukaan masyarakat.
3. Tari Cangget: Ritual pemuda-pemudi dalam acara adat, panen raya, atau pernikahan.Tari Melinting: Tarian klasik dari Lampung Timur yang dibawakan bangsawan kerajaan.
4. Tari Tuping: Drama tari topeng tradisional yang menggambarkan kepahlawanan dan rasa syukur.Unsur dan Ciri KhasGerakan: Lembut, dinamis, serta sarat gestur penghormatan dan keramahan.
5. Tari Cak Culay Na'bui Na'bui digunakan sebagai tari hiburan dan pergaulan masyarakat, yang menggambarkan suasana gembira, kebersamaan, dan interaksi sosial.
Busana: Didominasi warna cerah dengan mahkota khas seperti Siger dan atribut keemasan.Musik: Diiringi alat musik tradisional seperti gamolan pekhing, gundang, dan petting atau gitar tunggal. Salah satu tarian Lampung
Peserta didik mampu mengeksplorasi dan menciptakan karya seni rupa dengan menggunakan berbagai alat, bahan, teknik, dan prosedur. Peserta didik mampu mengembangkan kreativitas melalui kegiatan mencoba, mengamati, memodifikasi, dan menghasilkan karya yang memiliki nilai estetis serta berkaitan dengan lingkungan dan budaya di sekitarnya.
Tujuan Pembelajaran
Peserta didik mampu:
memahami pengertian dan karakteristik kerajinan gerabah;
mengenali bahan dan alat yang digunakan dalam pembuatan gerabah;
mengidentifikasi berbagai teknik dalam membuat kerajinan gerabah;
mengeksplorasi variasi teknik penggunaan alat dan/atau bahan dalam membuat gerabah;
membuat rancangan atau karya sederhana yang terinspirasi dari kerajinan gerabah;
menunjukkan sikap kreatif, teliti, mandiri, dan bertanggung jawab selama proses berkarya.
TP Mindful, Meaningful dan Joyful
1. Mindful Learning (Berkesadaran)
Peserta didik mampu mengamati bentuk, tekstur, dan karakteristik gerabah dengan penuh perhatian.
Peserta didik mampu menggunakan alat dan bahan dengan hati-hati, aman, dan bertanggung jawab.
Peserta didik mampu menyadari bahwa setiap teknik berkarya membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan keterampilan.
Peserta didik mampu menghargai proses dan hasil karya diri sendiri maupun karya teman.
2. Meaningful Learning (Bermakna)
Peserta didik mampu menghubungkan kerajinan gerabah dengan kehidupan sehari-hari dan budaya masyarakat Indonesia.
Peserta didik memahami bahwa gerabah dapat digunakan sebagai benda pakai maupun benda hias.
Peserta didik mampu mengenali bahwa tanah liat dapat diolah menjadi berbagai bentuk benda yang memiliki nilai guna dan nilai seni.
Peserta didik mampu menghubungkan kegiatan membuat gerabah dengan pentingnya melestarikan kerajinan tradisional Indonesia.
3. Joyful Learning (Menggembirakan)
Peserta didik mampu mengeksplorasi berbagai bentuk dan teknik gerabah melalui kegiatan mencoba dan berkarya.
Peserta didik merasa senang dan percaya diri dalam menuangkan ide kreatif ke dalam karya.
Peserta didik mampu bekerja sama dan berdiskusi dalam mengeksplorasi alat, bahan, serta teknik pembuatan gerabah.
Peserta didik menikmati proses berkarya tanpa takut melakukan kesalahan dan berani mencoba variasi bentuk baru.
ATP (Alur Tujuan Pembelajaran)
Murid dapat mengeksplorasi variasi teknik penggunaan alat dan/atau bahan dalam membuat karya kerajinan gerabah dengan memperhatikan karakteristik bahan, fungsi, keamanan, dan nilai estetis karya.
“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah.”
Melalui kegiatan membuat gerabah, kita belajar bahwa bahan yang berasal dari alam dapat diolah dengan kreativitas dan keterampilan menjadi karya yang memiliki nilai guna dan keindahan.
Kita juga belajar untuk bersyukur atas ciptaan Allah SWT, menjaga lingkungan, menghargai budaya, serta menggunakan bahan alam dengan bijaksana.
A. Pengertian Gerabah
Gerabah adalah benda yang dibuat dari tanah liat yang dibentuk sesuai kebutuhan, kemudian dikeringkan dan dibakar hingga menjadi keras.
Gerabah merupakan salah satu bentuk kerajinan tradisional yang telah dibuat oleh masyarakat Indonesia sejak dahulu.
Contoh benda yang dapat dibuat dari gerabah antara lain:
pot bunga;
kendi;
vas bunga;
tempat pensil;
mangkuk;
piring;
celengan;
tempat lilin;
hiasan rumah.
Gerabah dapat memiliki nilai guna karena dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan nilai estetis karena memiliki bentuk serta hiasan yang indah.
B. Bahan dalam Membuat Gerabah
Bahan utama yang digunakan untuk membuat gerabah adalah tanah liat.
Tanah liat memiliki karakteristik:
mudah dibentuk ketika basah;
memiliki tekstur yang lembut;
dapat dibentuk menjadi berbagai macam benda;
menjadi keras setelah dikeringkan dan dibakar;
dapat diberi warna atau hiasan.
Selain tanah liat, dalam kegiatan berkarya dapat digunakan bahan tambahan seperti:
air;
pewarna;
bahan untuk menghias;
cat;
bahan pelapis.
C. Alat dalam Membuat Gerabah
Beberapa alat yang dapat digunakan untuk membuat gerabah antara lain:
tangan, untuk membentuk dan meratakan tanah liat;
papan atau alas, sebagai tempat membuat karya;
pisau atau alat ukir, untuk membuat pola atau hiasan;
alat pemotong, untuk memotong atau merapikan tanah liat;
alat pembentuk sederhana, untuk membantu menghasilkan bentuk tertentu.
Penggunaan alat harus dilakukan dengan hati-hati dan sesuai fungsinya.
D. Teknik Membuat Gerabah
Ada beberapa teknik sederhana yang dapat digunakan dalam membuat gerabah.
1. Teknik Pijit (Pinching)
Teknik pijit dilakukan dengan cara membentuk tanah liat menggunakan jari-jari tangan.
Tanah liat dipijat dan ditekan secara perlahan hingga membentuk benda yang diinginkan.
Contohnya:
mangkuk kecil, wadah sederhana, atau hiasan.
2. Teknik Pilin (Coiling)
Teknik pilin dilakukan dengan membuat tanah liat menjadi bentuk seperti tali panjang.
Pilin-pilin tanah liat tersebut kemudian disusun secara melingkar dan disatukan hingga membentuk benda.
Teknik ini dapat digunakan untuk membuat:
pot;
vas;
tempat pensil;
wadah sederhana.
3. Teknik Lempeng (Slab)
Teknik lempeng dilakukan dengan membuat tanah liat menjadi lembaran atau lempengan yang memiliki ketebalan relatif sama.
Lempengan kemudian dipotong dan disusun menjadi bentuk tertentu.
Contohnya:
kotak kecil;
tempat pensil;
hiasan dinding;
wadah sederhana.
4. Teknik Cetak
Teknik cetak dilakukan dengan memasukkan atau menekan tanah liat ke dalam cetakan sehingga menghasilkan bentuk tertentu.
Teknik ini dapat membantu menghasilkan bentuk yang lebih seragam.
E. Eksplorasi Variasi Teknik
Eksplorasi berarti mencoba dan mencari berbagai kemungkinan untuk menghasilkan karya.
Dalam membuat gerabah, peserta didik dapat mengeksplorasi:
bentuk;
ukuran;
tekstur;
pola;
hiasan;
teknik pijit;
teknik pilin;
teknik lempeng;
teknik cetak;
kombinasi beberapa teknik.
Contoh:
Sebuah pot dapat dibuat menggunakan teknik pilin, kemudian permukaannya dihias menggunakan teknik ukir atau gores.
Dengan mencoba berbagai teknik, peserta didik dapat menemukan cara yang sesuai dengan ide dan bentuk karya yang ingin dibuat.
F. Tahapan Sederhana Membuat Gerabah
1. Menyiapkan bahan dan alat
Siapkan tanah liat, air, alas, dan alat pembentuk atau penghias.
2. Mengolah tanah liat
Tanah liat diremas dan dipadatkan agar lebih mudah dibentuk.
3. Membentuk
Bentuk tanah liat menggunakan teknik yang dipilih, misalnya teknik pijit, pilin, lempeng, atau cetak.
4. Menghias
Tambahkan pola, tekstur, garis, atau bentuk hiasan sesuai kreativitas.
5. Mengeringkan
Karya dikeringkan secara bertahap hingga cukup kuat dan tidak terlalu basah.
6. Membakar
Gerabah yang sudah kering dapat dibakar menggunakan tungku khusus dengan pengawasan orang dewasa atau pengrajin.
7. Finishing
Gerabah dapat diberi warna atau lapisan akhir agar terlihat lebih menarik.
G. Nilai Seni dan Budaya Gerabah
Gerabah tidak hanya memiliki fungsi sebagai benda pakai, tetapi juga menjadi bagian dari budaya dan kehidupan masyarakat Indonesia.
Melalui kerajinan gerabah, kita dapat belajar tentang:
kreativitas;
ketekunan;
keterampilan tangan;
pemanfaatan bahan alam;
budaya daerah;
pelestarian kerajinan tradisional.
Gerabah merupakan salah satu contoh bahwa karya seni dapat menggabungkan keindahan, fungsi, kreativitas, dan budaya.
H. Keselamatan dan Sikap dalam Berkarya
Saat membuat gerabah, peserta didik perlu:
menggunakan alat sesuai fungsinya;
menjaga kebersihan tempat kerja;
tidak bermain-main dengan alat;
mencuci tangan setelah selesai berkarya;
menggunakan alat tajam dengan pengawasan guru;
tidak mendekati tungku pembakaran tanpa izin dan pengawasan orang dewasa;
menghargai karya teman;
menjaga bahan alam agar tidak digunakan secara berlebihan.
I. Kegiatan Eksplorasi
Peserta didik melakukan kegiatan eksplorasi sederhana dengan mencoba berbagai teknik membentuk tanah liat.
Peserta didik dapat mencoba:
Teknik Pijit → Teknik Pilin → Teknik Lempeng → Teknik Cetak
Kemudian peserta didik memilih teknik yang paling sesuai untuk membuat karya sederhana.
Peserta didik dapat membuat salah satu karya berikut:
pot mini;
mangkuk kecil;
tempat pensil;
vas mini;
celengan;
hiasan sederhana.
Peserta didik kemudian memberikan hiasan atau tekstur sesuai kreativitas masing-masing.
Latihan Soal
Peserta didik mengerjakan latihan soal tentang:
pengertian gerabah;
bahan utama pembuatan gerabah;
karakteristik tanah liat;
alat yang digunakan untuk membuat gerabah;
teknik pijit;
teknik pilin;
teknik lempeng;
teknik cetak;
variasi teknik dalam membuat gerabah;
fungsi dan nilai budaya kerajinan gerabah.
Penutup
Guru bersama peserta didik menyimpulkan pembelajaran hari ini.
Guru memberikan apresiasi terhadap proses dan hasil karya peserta didik serta mengajak peserta didik untuk selalu berani mencoba, menghargai karya orang lain, dan menjaga kelestarian budaya Indonesia.
Peserta didik memahami sifat-sifat cahaya dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari serta mampu melakukan pengamatan dan percobaan sederhana untuk membuktikan sifat-sifat cahaya.
TUJUAN PEMBELAJARAN
Peserta didik dapat menjelaskan berbagai sifat cahaya serta menganalisis penerapan sifat cahaya dalam kehidupan sehari-hari melalui kegiatan pengamatan dan percobaan sederhana.
Setelah mengikuti pembelajaran, peserta didik diharapkan mampu:
menjelaskan pengertian cahaya;
mengidentifikasi sumber cahaya;
menjelaskan sifat cahaya merambat lurus;
menjelaskan sifat cahaya dapat menembus benda bening;
menjelaskan sifat cahaya dapat dipantulkan;
menjelaskan sifat cahaya dapat dibiaskan;
menjelaskan bahwa cahaya putih dapat diuraikan menjadi berbagai warna;
memberikan contoh pemanfaatan sifat cahaya dalam kehidupan sehari-hari;
melakukan percobaan sederhana untuk membuktikan sifat-sifat cahaya;
menunjukkan sikap teliti, aktif, dan bertanggung jawab dalam melakukan percobaan.
TP MINDFUL, MEANINGFUL, DAN JOYFUL
1. Mindful Learning (Berkesadaran)
Peserta didik belajar dengan penuh perhatian terhadap berbagai peristiwa cahaya yang terjadi di lingkungan sekitar.
Peserta didik menyadari bahwa cahaya memiliki berbagai sifat yang dapat diamati melalui kehidupan sehari-hari.
Peserta didik mampu mengamati arah perjalanan cahaya dengan teliti.
Peserta didik menyadari bahwa cahaya sangat penting bagi kehidupan manusia, hewan, dan tumbuhan.
Peserta didik mampu merefleksikan kebesaran Allah SWT melalui keteraturan cahaya dan manfaatnya bagi kehidupan.
2. Meaningful Learning (Bermakna)
Peserta didik menghubungkan konsep sifat cahaya dengan pengalaman yang mereka temui sehari-hari.
mengamati cahaya matahari yang masuk melalui jendela;
mengamati bayangan benda ketika terkena cahaya;
mengamati benda yang terlihat jelas melalui kaca;
mengamati bayangan pada cermin;
mengamati pensil yang terlihat bengkok ketika dimasukkan ke dalam air;
mengamati warna-warni pelangi;
memahami manfaat cahaya dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, peserta didik memahami bahwa sifat cahaya bukan hanya materi pelajaran, tetapi dapat ditemukan dalam berbagai peristiwa di lingkungan sekitar.
3. Joyful Learning (Menggembirakan)
Peserta didik mempelajari sifat cahaya melalui kegiatan yang menyenangkan seperti:
permainan mencari sumber cahaya;
percobaan cahaya merambat lurus;
percobaan cahaya menembus benda bening;
percobaan pemantulan cahaya menggunakan cermin;
percobaan pembiasan menggunakan gelas berisi air;
mengamati warna pelangi;
permainan tebak sifat cahaya;
kuis tentang sifat-sifat cahaya;
berdiskusi dalam kelompok;
mempresentasikan hasil percobaan.
Peserta didik diberikan kesempatan untuk mengamati, mencoba, menemukan, berdiskusi, dan menyampaikan hasil pengamatan sehingga pembelajaran menjadi aktif, menyenangkan, dan bermakna.
ATP (ALUR TUJUAN PEMBELAJARAN)
Peserta didik menjelaskan pengertian cahaya.
Peserta didik mengidentifikasi berbagai sumber cahaya.
Peserta didik menjelaskan bahwa cahaya merambat lurus.
Peserta didik menjelaskan bahwa cahaya dapat menembus benda bening.
Peserta didik menjelaskan bahwa cahaya dapat dipantulkan.
Peserta didik menjelaskan bahwa cahaya dapat dibiaskan.
Peserta didik menjelaskan bahwa cahaya putih dapat diuraikan menjadi berbagai warna.
Peserta didik menghubungkan sifat cahaya dengan peristiwa dalam kehidupan sehari-hari.
Peserta didik melakukan percobaan sederhana untuk membuktikan sifat-sifat cahaya.
Peserta didik merefleksikan manfaat cahaya bagi kehidupan.
Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin, wassholaatu wassalaamu ‘alaa asyroofil anbiyaa-i wal mursaliin, nabiyyinaa wahabiibinaa muhammadin, wa’ala alihi washahbihi ajma’iin, wa mantabi’ahum biihsanin ilaa yaumiddiin, Amma ba’du.
Sebelum kita masuk ke pembelajaran IPAS, mari kita renungkan kebesaran Allah SWT.
Al-Khaliq (Maha Menciptakan): Allah SWT menciptakan matahari sebagai salah satu sumber cahaya yang sangat penting bagi kehidupan.
Al-'Alim (Maha Mengetahui): Allah SWT mengetahui segala sesuatu yang terjadi di alam semesta, termasuk bagaimana cahaya bergerak dan memberikan manfaat bagi makhluk hidup.
Ar-Rahman (Maha Pengasih): Allah SWT memberikan cahaya kepada makhluk-Nya sehingga manusia dapat melihat, tumbuhan dapat melakukan fotosintesis, dan berbagai aktivitas kehidupan dapat berlangsung.
Materi : SIFAT-SIFAT CAHAYA
A. Pengertian Cahaya
Cahaya adalah energi yang memungkinkan kita melihat benda-benda di sekitar.
Tanpa cahaya, kita akan kesulitan melihat benda di lingkungan sekitar.
Cahaya dapat berasal dari sumber alami maupun sumber buatan.
Contoh sumber cahaya alami adalah:
Matahari;
bintang;
kunang-kunang.
Contoh sumber cahaya buatan adalah:
lampu;
senter;
lilin.
Cahaya memiliki beberapa sifat yang dapat kita amati melalui berbagai percobaan sederhana.
B. Sifat-Sifat Cahaya
1. Cahaya Merambat Lurus
Cahaya merambat dalam garis lurus.
Kita dapat membuktikannya dengan menggunakan beberapa lembar karton yang diberi lubang.
Jika lubang-lubang tersebut berada dalam posisi sejajar, cahaya dari senter dapat melewati lubang tersebut.
Namun, jika salah satu karton digeser sehingga lubangnya tidak sejajar, cahaya tidak dapat melewatinya.
Contoh dalam kehidupan sehari-hari:
cahaya matahari yang masuk melalui celah jendela;
sinar senter yang terlihat lurus;
cahaya lampu kendaraan yang menerangi jalan.
Kesimpulan:
Cahaya dapat merambat lurus.
2. Cahaya Dapat Menembus Benda Bening
Cahaya dapat melewati benda yang bening atau transparan.
Benda bening adalah benda yang dapat ditembus cahaya sehingga benda di baliknya dapat terlihat.
Contoh benda bening:
kaca jendela;
air jernih;
plastik bening;
gelas bening.
Contohnya, cahaya matahari dapat masuk ke dalam rumah melalui kaca jendela.
Namun, tidak semua benda dapat ditembus cahaya.
Benda seperti kayu, buku, dan dinding tidak dapat ditembus cahaya.
Kesimpulan:
Cahaya dapat menembus benda bening.
3. Cahaya Dapat Dipantulkan
Cahaya dapat dipantulkan ketika mengenai permukaan suatu benda.
Pemantulan cahaya dapat kita lihat dengan jelas pada cermin.
Ketika kita berdiri di depan cermin, cahaya yang mengenai tubuh kita dipantulkan oleh cermin menuju mata. Oleh karena itu, kita dapat melihat bayangan diri kita.
Contoh benda yang dapat memantulkan cahaya:
cermin;
permukaan air;
benda logam yang mengilap.
Contoh dalam kehidupan sehari-hari:
bercermin;
kaca spion kendaraan;
menggunakan reflektor pada kendaraan;
melihat bayangan pada permukaan air.
Kesimpulan:
Cahaya dapat dipantulkan oleh permukaan benda.
4. Cahaya Dapat Dibiaskan
Pembiasan cahaya adalah peristiwa perubahan arah cahaya ketika melewati dua medium atau zat yang berbeda.
Contohnya dapat diamati ketika sebuah pensil dimasukkan ke dalam gelas berisi air.
Pensil yang berada di dalam air dapat terlihat seperti bengkok atau patah.
Hal tersebut terjadi karena cahaya mengalami perubahan arah ketika berpindah dari air ke udara.
Contoh pembiasan cahaya dalam kehidupan sehari-hari:
pensil terlihat bengkok di dalam air;
dasar kolam terlihat lebih dangkal;
penggunaan kaca pembesar;
penggunaan lensa pada kacamata.
Kesimpulan:
Cahaya dapat mengalami pembiasan ketika melewati medium yang berbeda.
5. Cahaya Dapat Diuraikan
Cahaya putih dapat diuraikan menjadi berbagai warna.
Peristiwa penguraian cahaya disebut dispersi cahaya.
Salah satu contoh yang dapat kita lihat di alam adalah pelangi.
Pelangi terjadi ketika cahaya matahari mengalami pembiasan dan penguraian oleh titik-titik air di udara.
Warna-warna pelangi antara lain:
Merah – Jingga – Kuning – Hijau – Biru – Nila – Ungu
Contoh lain penguraian cahaya dapat diamati menggunakan prisma.
Kesimpulan:
Cahaya putih dapat diuraikan menjadi berbagai warna.
C. Contoh Sifat Cahaya dalam Kehidupan Sehari-hari
Perhatikan contoh berikut!
Sifat Cahaya
Contoh dalam Kehidupan
Merambat lurus
Cahaya senter
Menembus benda bening
Cahaya masuk melalui kaca jendela
Dapat dipantulkan
Bercermin
Dapat dibiaskan
Pensil terlihat bengkok di dalam air
Dapat diuraikan
Pelangi
Dengan mengamati berbagai peristiwa tersebut, kita dapat mengetahui bahwa sifat cahaya banyak dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.
D. Percobaan Sederhana Sifat Cahaya
Percobaan 1: Cahaya Merambat Lurus
Alat dan bahan:
senter;
3 lembar karton;
alat pelubang.
Langkah-langkah:
Buat satu lubang pada masing-masing karton.
Susun ketiga karton secara berjajar.
Arahkan cahaya senter melalui lubang.
Amati apakah cahaya dapat melewati ketiga karton.
Geser salah satu karton.
Amati perubahan yang terjadi.
Hasil pengamatan:
Ketika lubang berada dalam satu garis lurus, cahaya dapat melewatinya. Ketika posisi lubang tidak sejajar, cahaya tidak dapat melewatinya.
Kesimpulan:
Cahaya merambat lurus.
E. Percobaan Cahaya Menembus Benda
Alat dan bahan:
senter;
gelas bening;
buku;
plastik bening;
karton.
Langkah-langkah:
Nyalakan senter.
Arahkan cahaya ke benda yang berbeda.
Amati apakah cahaya dapat melewati benda tersebut.
Catat hasil pengamatan.
Kesimpulan:
Cahaya dapat menembus benda bening, tetapi tidak dapat menembus benda yang tidak tembus cahaya.
F. Percobaan Pemantulan Cahaya
Alat dan bahan:
senter;
cermin;
kertas putih.
Langkah-langkah:
Letakkan cermin pada posisi tertentu.
Arahkan cahaya senter ke permukaan cermin.
Amati arah cahaya setelah mengenai cermin.
Gunakan kertas putih untuk melihat arah cahaya yang dipantulkan.
Kesimpulan:
Cahaya dapat dipantulkan ketika mengenai permukaan benda.
G. Percobaan Pembiasan Cahaya
Alat dan bahan:
gelas bening;
air;
pensil.
Langkah-langkah:
Isi gelas dengan air.
Masukkan pensil ke dalam gelas.
Amati pensil dari samping.
Bandingkan bagian pensil yang berada di dalam air dengan bagian yang berada di luar air.
Hasil pengamatan:
Pensil terlihat seperti bengkok atau patah.
Kesimpulan:
Cahaya mengalami pembiasan ketika berpindah dari satu medium ke medium lainnya.
H. Hubungan Sifat Cahaya dengan Kehidupan
Cahaya sangat penting bagi kehidupan.
Tumbuhan memanfaatkan cahaya matahari untuk melakukan fotosintesis. Manusia menggunakan cahaya untuk melihat benda, belajar, bekerja, dan melakukan berbagai aktivitas.
Berbagai alat juga memanfaatkan sifat cahaya.
Contohnya:
cermin memanfaatkan pemantulan cahaya;
kacamata memanfaatkan pembiasan cahaya;
kaca jendela memanfaatkan kemampuan cahaya menembus benda bening;
senter menghasilkan cahaya yang merambat lurus;
pelangi merupakan contoh penguraian cahaya.
Oleh karena itu, cahaya merupakan bagian penting dalam kehidupan sehari-hari.
LATIHAN SOAL
A. Jawablah pertanyaan berikut!
Apa yang dimaksud dengan cahaya?
Sebutkan tiga contoh sumber cahaya!
Apa yang dimaksud dengan cahaya merambat lurus?
Sebutkan dua contoh peristiwa cahaya merambat lurus dalam kehidupan sehari-hari!
Mengapa cahaya dapat masuk ke dalam rumah melalui kaca jendela?
Apa yang dimaksud dengan pemantulan cahaya?
Mengapa kita dapat melihat bayangan pada cermin?
Apa yang dimaksud dengan pembiasan cahaya?
Mengapa pensil terlihat bengkok ketika dimasukkan ke dalam gelas berisi air?
Apa yang dimaksud dengan penguraian cahaya?
B. Perhatikan peristiwa berikut!
Rani memasukkan sebuah pensil ke dalam gelas berisi air. Ketika dilihat dari samping, pensil tersebut tampak seperti bengkok.
Pertanyaan:
Sifat cahaya apakah yang terjadi pada peristiwa tersebut?
Mengapa pensil terlihat seperti bengkok?
Sebutkan satu contoh pembiasan cahaya lainnya dalam kehidupan sehari-hari!
C. Kelompokkan peristiwa berikut berdasarkan sifat cahaya!
Bercermin.
Cahaya masuk melalui kaca jendela.
Pensil terlihat bengkok di dalam air.
Cahaya senter bergerak lurus.
Pelangi muncul setelah hujan.
Tuliskan ke dalam tabel berikut:
No.
Peristiwa
Sifat Cahaya
1
Bercermin
................
2
Cahaya melalui kaca
................
3
Pensil dalam air
................
4
Cahaya senter
................
5
Pelangi
................
Refleksi Pembelajaran
Peserta didik merefleksikan pembelajaran tentang cahaya dan sifat-sifatnya dengan menyampaikan hal-hal yang telah dipahami. Peserta didik mampu menjelaskan bahwa cahaya memiliki beberapa sifat, yaitu merambat lurus, dapat dipantulkan, dapat dibiaskan, dan dapat menembus benda bening. Peserta didik juga mampu menghubungkan sifat-sifat cahaya dengan peristiwa yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Secara umum, peserta didik telah memahami materi dengan baik dan dapat memberikan contoh penerapan sifat cahaya dalam kehidupan sehari-hari.
Kesimpulan Pembelajaran
Cahaya merupakan salah satu bentuk energi yang sangat penting dalam kehidupan. Cahaya memiliki beberapa sifat, yaitu merambat lurus, dapat dipantulkan, dapat dibiaskan, dan dapat menembus benda bening. Sifat-sifat tersebut dapat kita amati melalui berbagai peristiwa sehari-hari, seperti terbentuknya bayangan pada cermin, pensil yang tampak bengkok di dalam air, serta cahaya matahari yang dapat melewati kaca. Dengan memahami sifat cahaya, peserta didik dapat menjelaskan berbagai fenomena di lingkungan sekitar dan semakin menyadari kebesaran Allah SWT melalui keteraturan alam yang diciptakan-Nya.
PENUTUP
Demikian pembelajaran hari ini, semoga bermanfaat. Semoga kita semakin menyadari kebesaran Allah SWT melalui berbagai fenomena alam yang ada di sekitar kita.
Kita akan melanjutkan pembelajaran pada pertemuan selanjutnya.